Chapter 2 : Analisa & Perancangan Kerja

Perencanaan kerja ( work design ) bertujuan untuk menentukan metode terbaik dalam melaksanakan operasi operasi kerja yang diperlukan dalam sebuah proses produksi sebagai upaya untuk meningkatkan produktivitas kerja.

Adapun aplikasi dari perencanaan kerja ini diantaranya ialah :

  1. Pengembangan tata cara kerja ( work methods ) yang lebih efektif dan efisien serta mengurangi kegiatan – kegiatan operasi yang tidak produktif dan terkait secara langsung dengan proses penambahan nilai dari produk yang sedang dikerjakan.

  2. Pengaturan kondisi dan lingkungan kerja yang lebih ergonomis sehingga dapat menciptakan kenyamanan dan keamanan bagi pekerja sebagai upaya untuk mempertahankan motivasi kerja yang dimilikinya.

  3. Pemanfaatan dan pendayagunaan seluruh input produksi yang ada secara maksimal, terutama pendayagunaan sumber daya manusia, dimana diperlukan analisa jabatan yang tepat dan akurat sehingga semua jabatan dipegang oleh orang yang memiliki kecakapan yang memadai.

Untuk melakukan proses perencanaan kerja tersebut, biasanya dilakukan melalui dua tahap, yaitu :

  1. Langkah studi dan analisa tata cara kerja ( methods study atau job design )

  2. Langkah pengukuran kerja ( work measuremen atau time study ) yang akan dibahas pada chapter 3 berikutnya.

Langkah studi dan analisa tata cara kerja

pada langkah ini akan dianalisa seluruh aktivitas operasional yang dilakukan dalam proses produksi. Melalui analisa ini akan dianalisa secara seksama untuk memperjelas komponen tugas – tugas dari masing – masing bagian dalam proses produksi. Disini akan dilihat pola hubungan yang terjadi antara manusia dengan mesin dan lingkungan kerjanya dalam sebuah stasiun kerja, sehingga akan diperoleh kondisi kerja yang dapat meningkatkan efektivitas dan efisiensi sebagai upaya untuk mencapai produktivitas yang tinggi.

Pendayagunaan secara efektif tentang fungsi dan peranan manusia sebagai bagian dari sistem proses produksi haruslah melalui pertimbangan perancangan kerja yang sesama. Dalam peranannya sebagai bagian dari proses produksi, manusia umumnya akan bertanggung jawab terhadap 3 fungsi dasar, yaitu :

  1. Menerima data atau informasi mengenai apa yang harus dikerjakan atau perlu segera diambil tindakan, adapun data dan informasi tersebut diperoleh baik secara visual maupun audio atau pendengaran.

  2. Mengolah informasi, membentuk persepsi dan memberikan keputusan terhadap informasi yang telah diolah tadi.

  3. Melakukan tindakan ( action ) sesuai dengan keputusna yang telah diambil baik melalui aktivitas fisik maupun aktivitas mental.

Dalam pembahasan Analisa tata cara kerja ini kita akan menemukan beberapa istilah istilah yang terkait, yaitu :

  1. Job Specialization.

    Merupakan upaya untuk merumuskan secara spesifik aktivitas – aktivitas baik mental maupun fisik serta tanggung jawab / wewenang yang harus dilakukan oleh seseorang sehingga akan dapat dengan mudah untuk ditentukan tolak ukur hasil kerja serta kendala – kendala yang dihadapinya.

    Melalui spesialisasi pekerjaan ini, akan dapat diperoleh beberapa keuntungan, diantaranya ialah kecepatan kerja dapat dikembangkan karena operator dapat mengkhususkan diri pada satu atau dua kegiatan saja, kemudia melaui spesialisasi ini akan dapat mengefisiensikan waktu yang tidak produktif seperti waktu set up.

    Selasin dapat meningkatkan produktivitas kerja, pendekatan ini juga memiliki beberapa kekurangan, diantaranya ialah bahwa pekerjaan akan menjadi monoton , rutin dan membosankan sehingga berpotensi menyebabkan terjadinya “ labor turn over “ dan “absenteeism “ yang tinggi. Pekerja akan mengalami keterhambatan dalam pengembangan dirinya akibat dari penciptakaan kondisi kerja yang hanya menekankan pada efektifitas dan efisiensi aspek aspek teknis serta mengabaikan kondisi psikologis dalam upaya mendapatkan kepuasan kerja. Spesialisasi pekerjaan yang pada awalnya bertujuan untuk meningkatkan produktivitas pekerjaan, akhirnya memberikan kesan bahwa manusia hanya dibutuhkan tenaga fisiknya saja dan mengabaikan pengembangan diri serta keadaan psikologisnya. Hal tersebut dalam waktu yang lama akan dapat menurunkan motivasi kerja karyawan yang pada akhirnya justru akan menurunkan produktivitas kerja yang seharusnya naik.

    Untuk mengatasi dampak negatif dari penerapan spesialisasi kerja tersebut, maka diperlukan beberapa langkah, diantaranya ialah job rotation ( pertukaran kerja ) , job enlargement ( pembesaran kerja ) dan job enrichmen ( pengkayaan kerja )

  2. Job Rotation.

    Pertukaran kerja diantara kelompok kerja dalam frekuensi yang cukup sering. Dengan adanya pertukaran tersebut diharapkan dampak negatif dari spesialisasi kerja seperti keadaan yang monoton dan kebosanan akibat pekerjaan yang terlalu terspesialisasi dapat diatasi, selain itu melalui pertukaran pekerjaan ini diharapak pekerja dapat mengembangkan kemampuannya pada aktivitas kerja yang lainnya. Melalui rotasi pekerjaan ini maka produktivitas akan dapat meningkat terutama apabila masalah rutinitas telah menunjukkan gelaja “ labor turn over “ dan “ absenteeism “ yang tinggi.

Funny job rotation

    Namun bukan berarti penerapan cara ini tidak memiliki kekurangan, kekurangan yang dihadapai dalam penerapannya ialah lebih kepada faktor individu yang enggan pindah dan melakukan rotasi karena keengganan untuk memulai dari awal ( belajar dari awal ) aktivitas yang baru yang membutuhkan penyesuaian. Kelemahan lainnya ialah bahwa dengan job rotation ini hanya bisa diterapkan pada level pekerjaan yang tidak memerlukan spesialisasi pekerjaan yang terlalu jauh berbeda, sehingga pekerja tidak memerlukan tantangan dalam suasana barunya tersebut.

  1. Job Enlargement.

    Merupakan upaya untuk memperluas atau memperbanyak aktivitas – aktivitas pekerjaan yang harus dilakukan oleh seseorang sesuai dengan keinginannya sebagai pemuasan psikologis utnutk memberikan kontribusi yang sebesar-besarnya pada peningkatan produktivitas. Dikenal dua bentuk job enlargement, yaitu :

    1. Job enlargement horizontal. Pekerja akan dibebani aktivitas pekerjaan yang sama tetapi dengan target output yang lebih besar. Peningkatan output tersebut akan diimbangi dengan pemberian insentif yang berbanding lurus. Semakin besar output yang dihasilkan maka akan semakin besar pula insentif yang akan diterimanya. Setidaknya melalui cara ini pekerja akan sedikit melupakan rasa bosan akibat rutinitasnya meskipun melalui cara ini belum banyak membawa perubahan terkait kepuasan psikologis yang ingin dicapai oleh pekerja, sebab variasi pekerjaan dan kemampuan pekerja juga tidak banyak bertambah.

    2. Job enlargement vertical. Pekerja akan dibebani tugas dan tanggung jawab yang lebih bervariasi dari aktivitas sebelumnya. Jika biasanya mungkin pekerja pada aktivitas sebenarnya tidak diberikan kesempatan untuk melakukan kegiatan supervisi, maka pada job enlargement vertical ini pekerja akan diberikan kesempatan untuk itu, seperti pengendalian kualitas output pekerjaan.

  2. Job enrichment.

    Merupakan kombinasi dari job enlargement vertical dan horizontal. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk menjadikan perkejaan tersebut menjadi menarik dan memuaskan sehingga moral pekerja dapat meningkat yang pada akhirnya dapat mencapai produktivitas yang baik. Dibandingakan job rotation, job enlargement dan enrichment akan memberikan dampak yang lebih baik pada psikologis pekerja. Kelemahan dari kedua cara tersebut ialah dalam menentukan tolak ukur optimal atau tidaknya perubahan yang dicapai.

Jadi dpat disimpulakan bahwa dalam perancangan kerja , maka faktor manusia dan interaksinya dengan mesin ( peralatan, fasilitas , dsb ) merupakan faktor yang harus tetap diperhitungkan. Pekerja sebagai bagian dari komponen proses produksi haruslah pula dipenuhi kepuasan – kepuasan sosial psikologinya disamping pemenuhan aspek aspek teknis dari aktivitas produksi tersebut.

Disinilah letak peranan ilmu ergonomi, dimana kita dapat lebih mengetahui kemampuan – kemampuan dan keterbatasan – keterbatasan yang dimiliki oleh manusia sebagai bagian dari komponen produksi dengan mempelajari karakteristik karakterisitik yang dimiliki oleh manusia seperti kecepatan gerak, keandalan menerima,mengolah informasi dan menjalankan instruksi yang ada. Studi ergonomi akan memberikan alternatif terbaik yang harus dipilih antara pekerjaan yang harus dilakukan oleh manusia atau mesin.



Semoga bermanfaat, budayakan silaturahmi dengan meninggalkan komentar anda

1 komentar:

Anonim mengatakan...

mas kampusnya dimana sich..??

Poskan Komentar

silahkan tinggalkan komentar anda pada artikel dan web ini,kami sangat menghargai jika anda menggunakan bahasa yang baik dan santun.....

Terimakasih atas kunjungannya ke blog ini, penting !!! , artikel - artikel keilmuan TI di dalam blog ini sebagian besar berasal dari diktat-diktat kuliah saya, saya berupaya mencantumkan sumber dari setiap artikel TI yang dimuat, mohon kerjasamanya dengan meninggalkan komentar jika menemukan artikel yang "textbook" alias "copas" yang tidak tertulis sumbernya ya .
 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Macys Printable Coupons