think of industrial engineering, it's all about industrial engineering

Engineering Tools

Tampilkan postingan dengan label Analisa Kelayakan Usaha. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Analisa Kelayakan Usaha. Tampilkan semua postingan

KEBUTUHAN DANA INVESTASI



Secara umum dalam menentukan kebutuhan dana untuk proyek investasi dipengaruhi oleh jenis proyek. Proyek berskala besar memerlukan dana yang besar dan begitu juga sebaliknya. Pengalokasian dana untuk proyek investasi secara umum dialokasikan ke dalam dua kelompok, yaitu untuk aktiva tetap dan untuk modal kerja. Aktiva tetap adalah aktiva yang memiliki umur ekonomis lebih dari satu periode, dibeli tidak untuk dijual kembali tetapi digunakan untuk operasi dan setiap periodenya mengalami penyusutan. Sedangkan modal kerja adalah aktiva yang digunakan dalam operasi perusahaan (satu tahun) dapat berubah menjadi kas. Pengeluaran yang berkaitan dengan modal kerja biasanya disebut dengan pengeluaran pendapatan.
Setelah jumlah dana yang dibutuhkan diketahui, tahap berikutnya adalah menentukan dalam bentuk apa dana tersebut didapat. Beberapa sumber dana yang penting adalah :
  • Modal sendiri yang disediakan oleh pemilik perusahaan.
  • Saham yang diperoleh dari emisi (penerbitan) saham di pasar modal.
  • Obligasi, yang diterbitkan oleh perusahaan dan dijual di pasar modal.
  • Kredit bank.
  • Leasing (sewa guna) dari lembaga non-bank.

ASPEK – ASPEK STUDI KELAYAKAN


Dalam melakukan studi kelayakan, terlebih dahulu mempelajari aspek-aspek apa saja yang berpengaruh. Pada penelitian ini dilakukan pada aspek pasar, aspek teknis, aspek finansial, aspek ekonomi, aspek manajemen, dan aspek sosial lingkungan


 

Aspek Pasar

Pengkajian aspek pasar berfungsi untuk menghubungkan manajemen suatu organisasi dengan pasar yang bersangkutan melalui informasi (Soeharto, 2002). Analisa aspek pasar berkaitan dengan ada tidaknya potensi pasar dan peluang pasar atas suatu produk yang diluncurkan di masa yang akan datang. Analisis aspek pasar mencakup hal-hal sebagai berikut :

  1. Analisis banyaknya produksi masa lalu dan sekarang.
  2. Analisis banyaknya kebutuhan masa lalu dan sekarang termasuk penentuan jumlah dan nilai konsumsi.
  3. Estimasi pangsa pasar produk dengan mempertimbangkan banyaknya kebutuhan dan produksi.

Analisis aspek pasar diawali dengan perencanaan produksi dengan mengetahui besarnya permintaan di masa mendatang menjadi penentuan target produksi. Cara yang dipakai untuk mengetahui besarnya permintaan di masa yang akan datang adalah dengan peramalan (forecasting). Selengkapnya tentang peramalan bisa dibaca di sub topik peramalan


 

Aspek Teknis

Aspek teknis merupakan suatu aspek yang berkenaan dengan proses pembangunan proyek secara teknis dan pengoperasiannya setelah proyek selesai dibangun (Husnan dan Suarsono, 2000). Berdasarkan analisis ini pula dapat diketahui rancangan awal penaksiran biaya investasi. Pengkajian aspek teknis sangat erat hubungannya dengan aspek-aspek lain, terutama aspek ekonomi, finansial dan pasar. Analisis teknis menyangkut luas industri, model bangunan, proses produksi yang dilakukan, tata letak proses atau peralatan dan kapasitas produksi.

  1. Bangunan industri.

Gedung atau bangunan merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari fasilitas instalasi dengan fungsi pokoknya sebagai tempat kerja,peralatan dan perlengkapan dsb. Karena fungsinya berbeda, maka desainnya juga harus berbeda.

Pemilihan rancangan bangunan ini ditentukan oleh harga tanah, jenis operasi dan mesin yang digunakan. Pemilihan jenis bangunan berdasarkan prose operasi harus mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut (Soeharto, 1999) :

  1. Memperlancar dan memperpendek arus barang yang diproses.
  2. Mengurangi biaya penanganan.
  3. Memudahkan pengawasan dan pemeliharaan.
  4. Memberi kenyamanan kepada karyawan.


     

  1. Tata letak dan peralatan industri

Tata letak (layout) industri merupakan keseluruhan bentuk dan penempatan fasilitas-fasilitas yang diperlukan dalam proses produksi. Di dalam berproduksi diperlukan peralatan, perlengkapan mesin atau fasilitas produksi. Fasilitas-fasilitas tersebut harus diatur sesuai dengan kebutuhan proses produksi sehingga hasilnya sesuai dengan jumlah dan kualitas yang ditetapkan.


 

  1. Proses produksi

Proses produksi dapat didefinisikan sebagai suatu kegiatan dengan melibatkan tenaga manusia, bahan serta peralatan untuk menghasilkan produk yang berguna. Pada hakekatnya proses produksi adalah proses pengubahan (transformasi) dari bahan atau komponen (input) menjadi produk lain yang mempunyai nilai lebih tinggi atau dalam proses terjadi penambahan nilai (Yamit, 1996).

Proses produksi secara garis besar dibedakan menjadi dua, yaitu proses produksi yang terus-menerus (continous process) dan proses produksi yang terputus-putus (intermitten process). Untuk dapat menentukan jenis proses produksi dari suatu industri maka perlu dilihat atau diketahui sifat-sifat dari proses produksi berikut ini.

Ciri-ciri dari proses produksi terus-menerus :

  1. Produk yang dihasilkan dalam jumlah besar.
  2. Produk biasanya menggunakan cara penyusunan peralatan urutan pekerjaan dari produk yang dihasilkan.
  3. Mesin-mesin yang dipakai adalah mesin yang bersifat khusus.
  4. Apabila salah satu mesin atau peralatan terhenti atau rusak maka seluruh proses produksi akan terhenti.

Sedangkan ciri-ciri proses produksi yang terputus-putus adalah :

  1. Produk yang dihasilkan dalam jumlah kecil dengan variasi yang cukup besar didasarkan pada pesanan.
  2. Peralatan disusun berdasarkan fungsinya dalam proses produksi.
  3. Mesin-mesin yang digunakan adalah mesin-mesin yang bersifat umum.
  4. Proses produksi tidak mudah terhenti meski terjadi kerusakan.


     


     


     


     

  5. Kapasitas produksi

Kapasitas produksi adalah volume atau jumlah satuan produk yang dihasilkan selama satuan waktu misalnya satu hari, bulan atau tahun (Soeharto, 1999). Beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam menentukan kapasitas industri adalah :

  1. Batasan permintaanyang telah diketahui dalam pangsa pasar.
  2. Tersedianya kapasitas mesin-mesin yang dalam hal ini dibatasi oleh kapasitas teknis atau kapasitas ekonomis.
  3. Jumlah dan kemampuan tenaga kerja.
  4. Kemampuan finansial dan manajemen.
  5. Kemungkinan terjadinya perubahan teknologi produksi dimasa yang akan datang.


 

Aspek Finansial

Kajian aspek finansial dalam studi kelayakan berkaitan dengan bagaimana menentukan kebutuhan jumlah dana dan sekaligus pengalokasiannya serta mencari sumber daa yang bersangkutan secara efisien, sehingga memberikan tingkat keuntungan yang menjanjikan bagi investor (Suratman, 2001).

Menurut Husnan dan Suwarsono (2000), hal-hal yan perlu dipelajari berkaitan dengan aspek finansial adalah :

  1. Dana yang disalurkan untuk investasi baik untuk aktiva tetap maupun untuk modal kerja.
  2. Sumber-sumber pembelanjaan yang digunakan.
  3. Taksiran penghasilan.
  4. Proyeksi keuangan

    Pembuatan neraca yang diproyeksikan dan proyeksi penggunaan dana.

  5. Manfaat dan biaya dalam artian finansial

        Seperti Net Present Value, Internal Rate of Return, Profitability Index dan Payback Period.


 

Pengertian Studi Kelayakan Proyek


Studi kelayakan adalah pengkajian yang bersifat menyeluruh dan mencoba menyoroti segala aspek kelayakan proyek atau investasi (Soeharto, 1999). Disamping sifatnya yang menyeluruh, studi kelayakan harus dapat menyuguhkan hasil analisis secara kuantitatif tentang manfaat yang akan diperoleh dibandingkan dengan sumber daya yang diperlukan. Tujuan dilakukannya studi kelayakan adalah untuk menghindari keterlanjutan penambahan modal yang terlalu besar untuk kegiatan yang ternyata tidak menguntungkan

Kriteria kelayakan erat kaitannya dengan keberhasilan. Pengertian keberhasilan ini mungkin bisa ditafsirkan agak berbeda-beda. Ada yang menafsirkan dalam artian yang lebih terbatas, terutama dipergunakan oleh pihak swasta yang lebih berminat tentang manfaat ekonomi suatu investasi. Sedangkan dari pihak pemerintah, atau lembaga nonprofit, pengertian menguntungkan bisa dalam arti yang lebih relatif.

Penyusutan ( Depresiasi )


Depresiasi pada dasarnya adalah penurunan dari alat atau properti atau aset karena waktu dan pemakaian (Pujawan,2000). Depresiasi bukan merupakan aliran kas, namun besar dan waktu akan mempengaruhi pajak yang akan ditanggung perusahaan. Depresiasi pada suatu properti atau aset biasanya disebabkan oleh faktor-faktor sebagai berikut :

  • Kerusakan fisik akibat pemakaian alat.
  • Kebutuhan produksi atau jasa yang lebih baru dan lebih besar.
  • Penurunan kebutuhan produksi atau jasa.
  • Aset tersebut menjadi usang karena adanya perkembangan teknologi.
  • Penemuan fasilitas-fasilitas yang bisa menghasilkan produk yang lebih baik dengan ongkos yanglebih rendah dan tingkat keselamatan yang lebih memadai.


 

Metode penyusutan menurut pasal 11 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1994 dapat dilihat pada Tabel 2.1 :


 

Tabel 2.1 Tarif Penyusutan Benda Berwujud

Kelompok Harta Berwujud

Masa Manfaat

Tarif Depresiasi

  

Garis Lurus

Saldo Menurun

  1. Bukan Bangunan

    Kelompok 1

    Kelompok 2

    Kelompok 3

    Kelompok 4 


 

4 th

8 th

16 th

20 th 


 

25 %

12,5 %

6,25 %

5 % 


 

50 %

25 %

12,5 %

10 % 

  1. Bangunan

    Permanen

Tidak permanen


 

20 th

10 th 


 

5 %

10 % 


 

-

- 

(Sumber: Waluyo, 2000)


 

Metode-metode dalam melakukan perhitungan penyusutan :

  1. Metode Garis Lurus atau Straight Line Method (SL)

Metode depresiasi garis lurus didasarkan atas asumsi bahwa berkurangnya nilai suatu aset secara linier (proporsional) terhadap waktu atau umur dari aset tersebut. Besarnya depresiasi tiap tahun dengan metode SL dihitung berdasarkan :

        = ………………………………………..(2.1)

dimana

        = besarnya depresiasi pada tahun ke-t

    P    = ongkos awal dari aset yang bersangkutan

    S    = nilai sisa dari aset tersebut

N    = masa pakai (umur) dari aset tersebut dinyatakan dalam tahun

  1. Metode Keseimbangan Menurun atau Declining Balance Method (DB)

Metode depresiasi keseimbangan menurun menyusutkan nilai suatu aset lebih cepat pada tahun-tahun awal dan secara progresif menurun pada tahun-tahun selanjutnya. Metode ini bisa dipakai bila umur aset lebih dari 3 tahun. Rumusnya sebagai berikut:

        = …………………………………(2.2)

dimana

        = besarnya depresiasi pada tahun ke-t

    d    = tingkat penyusutan yang ditetapkan

    P    = ongkos awal dari aset yang bersangkutan

Pajak adalah aliran kas, oleh karena itu pajak harus dipertimbangkan seperti halnya ongkos-ongkos yang lain (Pujawan, 2000). Menurut Waluyo (2000) fungsi pajak adalah :

  1. Fungsi Penerimaan (Budgetair)

    Pajak berfungsi sebagai sumber dana yang diperuntukkan bagi pembiayaan oengeluaran-pengeluaran pemerintah.

  2. Fungsi Mengatur (Reguler)

    Pajak berfungsi sebagai alat untuk mengatur atau melaksanakan kebijakan di bidang sosial dan ekonomi.

Pajak penghasilan adalah besarnya pajak yang dikenakan terhadap penghasilan yang diperoleh. Besarnya pajak penghasilan berdasarkan


 


 


 


 


 

Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 pasal 17 (ayat 1) dapat dilihat pada Tabel 2.2 sebagai berikut :


 

Tabel 2.2 Tarif Pajak Berdasarkan Tingkat Pendapatan

Lapisan Penghasilan Kena Pajak

Tarif Pajak

sampai dengan Rp. 50.000.000,00

Rp. 50.000.000,00 s/d Rp. 100.000.000,00

diatas Rp. 100.000.000,00 

10 %

15 %

30 % 

(Sumber: Waluyo, 2000)


 

Tips Menyusun Rencana Bisnis


Berikut ini adalah beberapa poin pertimbangan sebelum menyusun rencana bisnis yang baik:

  1. Persiapkan dan sediakan waktu (dalam hitungan minggu atau bulan) untuk menyelesaikan rencana bisnis. Karena kegiatan ini memerlukan kerja keras dan konsentrasi penuh.

  2. Walaupun akan sangat rumit diawalnya jangan patah semangat, caranya yaitu bagi proyek ini menjadi beberapa bagian yang dapat dengan mudah dikelola dan masing-masing bagian tetap berorientasi pada tujuan akhir.

  3. Sertakan semua hal penting atau isu pokok yang mendukung bisnis secara ringkas kedalam dokumen. Sebuah proposal rencana bisnis yang ideal cukup 10-15 halaman yang diketik dalam dua spasi.

  4. Investor atau kreditor hanya tertarik pada aspek yang dapat meyakinkan apakah anda mampu mencapai tujuan usaha. Oleh karena itu, tulis segala cara dan berbagai upaya yang mendasar untuk mencapai tujuan usaha serta fokus hanya pada apa yang diharapkan pembaca.

  5. Hindarkan terminologi yang sangat teknis dalam operasional usaha (proses produksi dan produk). Upayakan gunakan terminologi yang umum.

  6. Rencana bisnis adalah dokumen yang fleksibel, oleh karena itu menjadi subyek untuk senantiasa di perbaharui sejalan dengan perkembangan pengetahuan sehingga strategi yang dipilih akan semakin jelas.

  7. Rencana bisnis harus realistis dan berdasar pada hasil analisis data serta jujur dalam mengungkapkan temuan-temuan positif maupun negatif.

  8. Jelaskan resiko bisnis yang mungkin terjadi. Kredibilitas anda akan berkurang bila yang menemukan adanya risiko dan permasalahan usaha anda adalah calon kreditor atau investor.

  9. Jangan membuat pernyataan yang tidak jelas atau tidak berhubungan dengan substansi. Misalnya jangan hanya menyatakan bahwa penjualan akan berlipat ganda pada tahun mendatang atau jika kita dapat menambah unit produksi baru. Pernyataan tersebut harus didukung oleh data dan informasi pasar.

  10. Rencana bisnis internal dan eksternal dapat disusun secara terpisah agar lebih efektif. Rencana bisnis internal biasanya disusun lebih rinci agar dapat menjadi alat manajemen yang lebih efisien. (Depdiknas, 2006)


Semoga bermanfaat, budayakan silaturahmi dengan meninggalkan komentar anda