think of industrial engineering, it's all about industrial engineering

Engineering Tools

Mimpi menjadi Universitas Kelas Dunia


Mimpi menjadi Universitas Kelas Dunia

Tulisan ini saya persembahkan buat seseorang yang selalu ujian dengan sistem “ Take Home Test “, ya salah satu moda ujian dengan mengerjakan soal ujian di rumah yang tentu saja tanpa pengawasan dan penuh dengan reverensi ( lol ) .

Awalnya saya sendiri aneh,kenapa begitu mudah mereka dalam mengerjakan ujian, ujian akhir semester pula. Apakah memang karena materi yang diajarkan susah, ataukah ada sebab lainnya ? Hmm saya pikir pasti karena masalah klasik

Oke kita tinggalkan motivasi saya menulis itu, yang jelas backstory tadi mengingatkan saya dengan selogan “ world class university “ yang sedang kita impikan untuk kita raih yang pada akhirnya mungkin saja bisa untuk kita “jual” dalam rangka memenuhi fungsi pembiayaan institusi. :D

Nama salah satu program parodi di sebuah stasiun swasta nasional cukup menginspirasi mimpi kita itu. Effendi Ghazali sang moderator sering mengatakan bahwa negara kita dalam beberapa hal hanya baru bisa bermimpi. Yang itu diartikan bahwa kita masih punya keinginan dan harapan, lumayanlah daripada tidak sama sekali. Namun yang menjadi pertanyaan adalah seberapa gigih kita bekerja dan berupaya untuk meraih mimpi kita itu... ?? sudahkah semua yang kita lakukan menuju ke arah pencapaian mimpi itu, mimpi menjadi kampus berkelas dunia yang diidam-idamkan oleh hampir semua perguruan tinggi swasta di negara pak bambang ini. Ataukah itu hanya sebuah selogan untuk menaikkan prestige kampus yang jika di search di google hanya bisa mencapai angka 52 halaman pencarian saja ( data 27 juni 2010 ).

Bapak Hendra Gunawan, salah seorang dosen di sebuah perguruan tinggi di Bandung, pernah menulis hal yang sama tentang ini. Dalam tulisan beliau diterangkan beberapa kriteria untuk menjadi “world class university “ berdasarakan pengamatan yang dilakukan oleh Li lanqing,eks premier china 1993 – 2003. Dalam bukunya yang berjudul “Education for 1.3 Billion“ disebutkan setidaknya terdapat delapan kriteria untuk disebut dan diakui sebagai universitas kelas dunia. Mari kita jabarkan satu persatu sembari kita mengevaluasi dengan keadaan kita yang baru saja mendeklerasikan diri menjadi universitas kelas dunia.

Kriteria pertama ialah tentu saja fasilitator ilmu, yakni tenaga pengajar atau dosen. Universitas kelas dunia memiliki tenaga pengajar yang ternama, yang tentu saja kepopulerannya disebabkan oleh konsistensinya dalam pengembangan ilmu pengetahuan yang menjadi kepakarannya, seperti keaktifannya dalam penerbitan jurnal – jurnal ilmiah ditingkat internasional. Hal ini bisa saja atau tidak mesti ekuivalen dengan grade keilmuan yang dimiliki ( sarjana/master/doktor ), semakin tinggi level pendidikannya maka semakin intens pula kegiatan keilmiahan yang dilakukannya (idealnya). Beri centang jika kita sudah termasuk kriteria ini.


Kriteria kedua ialah kemampuan perguruan tinggi dalam merekrut dan mendidik banyak orang terkenal yang berhasil dalam karier dan mengharumkan nama almamaternya. MIT merupakan contoh kongkrit dalam hal ini, banyak lulusan perguruan tinggi favorit di Amerika ini merupakan pemenang nobel dalam berbagai disiplin ilmu. Beri centang lagi jika kita termasuk dalam kriteria ini.


Kriteria ketiga ialah perguruan tinggi kelas dunia umumnya telah mengadopsi model dan metode pembelajaran yang menjunjung tinggi kebebasan akademik dan mendorong inovasi teoritis. Perhatikan pola pembelajaran di kampus kita, hampir sebagian besar kita belajar dengan pola lama yang kaku dan monoton yang berciri khas mencatat dan menghafal, meskipun menurut pengalaman teman-teman yang menceritakan bahwa beberapa dosen punya pola mengajar dengan intensitas diskusi / seminar yang cukup banyak sehingga secara tidak langsung telah mendorong minat mereka untuk mencari secara mandiri ilmu yang sedang digeluti dari berbagai sumber, hal ini tentu saja mendatangkan gairah belajar yang cukup baik. Beberapa kampus favorit di negara kita sudah menganut sistem ini, teman-teman dari ITB dan UI pada suatu kesempatan dalam sebuah ajang perlombaan nasional bercerita kepada saya, bahwa mereka telah mengadopsi pola pembelajaran seperti itu, dan menurut pengakuan mereka,pola seperti ini secara tidak langsung telah menjadikan mereka mahasiswa yang “ harus rajin “ secara tidak langsung, sebab dosen disana terkenal paling susah memberikan nilai bagus jika mahasiswa tidak benar-benar kompeten, dan tentu saja nilai yang buruk menjadi momok bagi setiap mahasiswa. Saya merekomendasikan film 3 idiots ^_^ bagi pembaca sekalian jika ingin mengetahui bagaimana pola belajar yang saya maksudkan. Jangan lupa dicentang juga ya


Kriteria keempat berkaitan dengan program studi andalannya. Perguruan tinggi dunia umumnya menawarkan sejumlah program studi andalan dalam sarana dan prasarana pendukung yang lengkap. Sebagai contoh Oxford University memiliki beberapa program studi andalan diantaranya yaitu ekonomi dan biologi, sementara MIT yang terkenal dengan fisika dan ilmu komputernya. Kampus kaligawe menyelipkan kata cyber ditengah-tengah selogannya, yang oleh sebagian kalangan diasosiasikan sebagai pengembangan keilmuan IT. Lantas kalaupun itu benar, mari sejenak menengok sarana utama ( dosen/refernsi ilmiah ) maupun sarana penunjang lainnya seperti laboratorium dan sebagainya. Saya tidak ingin berkomentar banyak tentang ini, mungkin rekan – rekan yang pernah menggunakan pita hitam dilengan beberapa waktu yang lalu lebih paham dengan hal ini. Oya jangan lupa dicentang jika kriteria ini kita miliki.


Kriteria kelima berkaitan dengan jumlah mahasiswa program pasca sarjana dan doktor. Perguruan tinggi dunia umumnya memiliki jumlah mahasiswa program sarjana yang mencapai setengah dari total jumlah mahasiswanya. Di Harvard University total mahasiswa pasca sarjananya mencapai 1,66 kali jumlah mahasiswa sarjananya. Saya ragu jika point ini kita terimas sebagai kriteria :D, jangan lupa dicentang lagi jika memenuhi.


Kriteria keenam dan ketuju berkaitan dengan kontribusi perguruan tinggi sebagai sumber pemikiran, gagasan, teori,dan teknologi baru yang selalu tercipta dari waktu ke waktu. Perguruan tinggi dunia juga memiliki warisan budaya yang kaya dalam institusinya. Kalau ini kita pasti punya budaya yang mungkin tidak semua kampus memilikinya, ya BudAi, budaya akademik islami yang salah satu aturannya mewajibkan seluruh akhwat dikampus menutup aurat, bercandaan teman saya yang baru berkunjung kekampus beberapa waktu lalu, menyebut kampus kita sebagai kampus suasana surga ^_^. Oya dalam bidang pengembangan teknologi kita punya proyek mobil hybrid yang dengar-dengar menarik minat pemkab sragen untuk menjalin kerjasama. Oke, silahkan centang jika anda merasa kita memenuhi hal ini


Kriteria kedelapan berkaitan dengan peran serta perguruan tinggi bagi pengembangan lingkungan sosialekonomi budaya masyarakat sekitar dan negara. Sebagai contoh pada tahun 1951 Stanford University mempelopori penerapan sains pada dunia industri, dimana melalui kerja sama dengan dunia industri membangun suatu kawasan idsutri yang hi-tech yang sekarang dikenal dengan silicon valley.Hal yang sama juga dilakukan oleh Cambridge University. Dalam pemikian saya Mungkin KPT ( kuliah penerapan teknologi ) jika dikelola dengan berkesinambungan dapat dijadikan nilai untuk memenuhi kriteria ini. Oke centang jika anda anggap ini memenuhi.


Cukup delapan kriteria kita bahas dalam “melegalkan “ untuk menyebut diri kita “ Wold Class University “, lantas sekarang pertanyaannya adalah, berapa tanda centang yang telah anda bubuhi pada setiap kriteria tersebut. Satu, dua, atau bahkan delapan ?.

Akhirnya tulisan ini saya buat untuk mengingatkan kita semua agar tidak lupa dan terlena serta terbuai dalam mimpi – mimpi semu belaka yang menjadikan kita mahasiswa yang lupa pada proses mengkritisi dan mengevaluasi proses yang terjadi. Berpikir positif terhadap suatu hal itu baik, tapi dalam hal ini kita telah bersinggungan dengan modal / kapital yang bisa saja jika salah, kita hanya akan menjadi komoditas. Memenuhi tanggung jawab membayar dan lupa menagih hak karena terbuai karena telah menjadi mahasiswa kelas dunia.

Akhir kata dari saya, selamat menempuh ujian teman – teman , jangan nyontek, buat para asisten dosennya, semoga bisa menjadi panutan dan teladan di ruang ujian. Semangat belajar dan mari saling mendoakan semoga kita benar-benar menjadi insan terbaik ( khoirul ummah ).



( Diterbitkan pada www.aderafiansyah.co.cc )Semoga bermanfaat buat sobat semua dan semoga Allah swt juga meridhoi ilmu ini untuk kita amalkan bersama,amien...jazakillah khoiron katsir.