think of industrial engineering, it's all about industrial engineering

Engineering Tools

Tampilkan postingan dengan label APK dan Ergonomi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label APK dan Ergonomi. Tampilkan semua postingan

Pengukuran Waktu Kerja


Waktu merupakan elemen yang sangat menentukan da1am merancang atau memperbaiki suatu sistem kerja. Peningkatan efisiensi suatu sistem kerja mutlak 3 berhubungan dengan waktu kerja yang digunakan da1am berproduksi. Pengukuran waktu (time study) pada dasarnya merupakan suatu usaha untuk menentukan lamanya waktu kerja yang dibutuhkkan oleh seorang operator (yang sudah terlatih) untuk menyelesaikan suatu pekerjaan yang spesifik, pada tingkat kecepatan kerja yang normal,serta dalam lingkungan kerja yang terbaik pada saat itu. Dengan demikian pengukuran waktu ini merupakan suatu proses kuatitatif, yang diarahkan untuk mendapatkan suatukriteria yang obyektif. Study mengenai pengukuran waktu kerja dilakukan untuk dapat melakukan perancangan atau perbaikan dari suatu sistem kerja. Untuk keperluan tersebut, dilakukan penentuan waktu baku, yaitu waktu yang diperlukan dalam bekerja dengan telah mempertimbangkan faktor-faktor diluar elemen pekerjaan yang dilakukan.
Secara umum, teknik-teknik pengukuran waktu kerja dapat dikelompokkan atas dua kelompok besar :
a. Secara Langsung
Pengukuran waktu dengan jam henti (Stop Watch Jam )
Sampling pekerjaan ( Work Sampling )
b. Secara Tidak Langsung
• Data Waktu Baku
• Data Waktu Gerakan, terdiri dari :
- Work Faktor (WF) System
- Maynard Operation Sequece Time (MOST System )
- Motion Time Measurement ( MTM System )
Metode Pengukuran Dengan Jam henti
Karakteristik sistem kerja yang sesuai :
• Jenis aktivitas pekerjaan bersifat homogen
• Aktivitas dilakukan secara berulang - ulang dan sejenis
• Terdapat output yang riil, berupa produk yang dapat dinyatakan secara kuantitatif
Langkah - langkah pengukuran waktu kerja dengan jam henti :
Lakukan identifitas pekerjaan yang akan diamati dan diukur waktunya dan deskripsikan maksud dan tujuan kepada seluruh pendukung sistem kerja yang diamati. 4
• Kumpulkan semua informasi mengenai proses yang dilakukan pada obyek pengamatan seteliti mungkin
• Uraikan pekerjaan dalam elemen - elemen aktivitas kerja yang lebih kecil untuk memudahkan pengukuran.
• Tetapkan tating performansi operator setiap elemen pekerjaan yang dilakukan operator.
• Lakukan pengukuran waktu kerja setiap elemen pekerjaan yang dilakukan operator.
• Lakukan pengukuran sejumlah yang diperlukan (dengan menggunakan uji kecukupan data dan uji keseragaman data)
• Tetapkan faktor penyesuaian dan faktor kelonggaran
• Tetapkan waktu baku dan sistem kerja yang diamati Asumsi Dasar Dalam Pengukuran Waktu Kerja Dengan Jam Henti :
• Operator yang diamati memahami dan dapat melaksanakan prosedur dan pelaksanaan pekerjaan dengan baik (memiliki kemampuan dan ketrampilan standart )
• Teknik dan metode yang dilakukan dalam sistem pekerjaan yang diamati harus baku dan standart
• Kinerja sistem mampu dikendalikan untuk setiap periode kerja vang disediakan
• Lingkungan pendukung sistem kerja standart, tidak jauh berbeda dengan saat dilakukan pengukuran.
WAKTU BAKU
Penentuan waktu baku :
• Waktu siklus : waktu hasil pengamatan secara langsung yang tertera dalam stop watch.
• Waktu normal : waktu kerja telah mempertimbangkan factor penyesuaian
Waktu baku waktu kerja dengan mempertimbangkan factor penyesuaian dan faktor kelonggaran (allowance ).
Manfaat Waktu Baku :
Penjadwalan produksi (Production Schedulling )
Perencanaan kebutuhan tenaga kerja ( Man Power Planning )
• Perencanaan sistem kompensasi
• Menunjukkan kemampuan pekerja berproduksi
• Mengetahui besaran - besaran performansi sistem kerja berdasar data produksi aktual
Faktor Penyesuaian
Maksud dimasukkannya faktor penyesuaian adalah untuk menjaga kewajaran kerja, sehingga tidak akan terjadi kekurangan waktu karena terlalu idealnya kondisin kerja yang diamati. Faktor penyasuaian dalam pengukuran waktu kerja dibutuhkan untuk menentukan waktu normal dari operator yang berada dalam sistem kerja tertentu.Beberapa metode dalam menentukan besar faktor penyesuaian, antara lain :
• Metode shumard
• Metode Westinghouse
• Metode Obyektif
• Metode Bedaux atau sintesis
Faktor Kelonggaran (allowance)
Pemberian kelonggaran ini dimaksudkan untuk memberi kesempatan kepada operator untuk melakukan hal - hal yang harus dilakukannya, sehingga waktu baku yang diperol,eh dapat dikatakan data waktu kerja yang lengkap dan mewakili sistem kerja yang diamati. Kelonggaran yang diberikan antara lain :
• Kelonggaran untuk kebutuhan pribadi
Kelonggaran untuk menghilangkan rasa 1elah ( fatique )
• Kelonggaran yang tidak dapat dihindarkan
Pemberian faktor kelonggaran dan penyesuaian secara bersama - sama, selayaknya dapat dirasakan adil (fair), baik dari sisi operator maupun dari sisi manajemen.
KURVA BELAJAR
Kurva belajar menunjukkan tingkat penguasaan operator terhadap pekerjaan yang dilakukannya (kondisi dan metode kerja sudah distandarkan). Kurva belajar ini penting untuk diketahui dalam melakukan pengukuran waktu kerja. Pengukuran kerja dilakukan pada keadaan operator sudah terlatih dan menguasai dengan baik metode pekerjaan yang dilakukannya. Tingkat penguasaan ini dapat dilihat dari kurva belajar.
Perumusan matematis dari kurva belajar adalah sebagai berikut :
Y = KX -A
Di mana :
Y = Waktu siklus
X = Siklus ke n : n = 1, 2, 3,….
K = Konstanta
A = Konstanta
CARA WESTINGHOUSE
Cara Westinghouse mengarahkan penilaian pada 4 faktor yang dianggap menentukan kewajaran dan ketidakwajaran dalam bekerja yaitu keterampilan, usaha, kondisi kerja, dan konsistensi. Setiap factor terbagi dalam kelas – kelas dengan nilai masing- masing.
Untuk keperluan penyesuaian keterampilan dibagi enam kelas dengan cirri-ciri dari setiap kelas seperti yang dikemukakan berikut ini :
SUPER SKILL :
  1. Secara bawahan cocok sekali dengan bawahannya.
  2. Bekerja dengan sempurna.
  3. Tampak seperti telah terlatih dengan baik.
  4. Gerakan-gerakannya sangat halus tetapi sangat cepat sehingga sulit untuk diikuti.
  5. Kadang-kadang terkesan tidak berbeda dengan gerakan-gerakan mesin.
  6. Perpidahan dari satu elemen pekerjaan ke elemen lainnya tidak terlampau terlihat karena lancar.
  7. Tidak terkesan adanya gerakan-gerakan berpikir dan merencana tentang apa yang dikerjakan (sudah sangat otomatis).
  8. Secara umum dapat dikatakan bahwa pekerja yang bersangkutan adalah pekerja yang baik.
EXXELENT SKILL :
  1. Percaya diri sendiri.
  2. Tampak cocok dengan pekerjaanya.
  3. Terlihat telah terlatih dengan baik.
  4. Bekerjanya teliti dengan tidak banyak melakukan pengukuran-pengukuran atau pemeriksaan-pemeriksaan.
  5. Gerakan kerjanya beserta urutan-urutannya dikerjakan tanpa kesalahan.
  6. Menggunakan peralatan dengan baik.
  7. Bekerjanya cepat tanpa mengorbankan mutu.
  8. Bekerjanya cepat tetapi halus.
  9. Bekerjanya berirama dan terkoordinasi.
GOOD SKILL :
  1. Kwalitas hasil baik.
  2. Bekerjanya tampak lebih baik daripada kebanyakan pekerjaan pada umumnya.
  3. Dapat memberi petunjuk-petunjuk pada pekerjaan lain yang keterampilannya lebih rendah.
  4. Tampak jelas sebagai pekerja yang cakap.
  5. Tidak memerlukan banyak pengawasan.
  6. Tidak keragu-raguan.
  7. Bekerja stabil.
  8. Gerakan-gerakannya terkoordinasi dengan baik.
  9. Gerakan-gerkannya cepat.
AVERAGE SKILL :
  1. Tampak adanya kepercayaan pada diri sendiri.
  2. Gerakannya cepat tetapi tidak lambat.
  3. Terlihat adanya pekerjaan-pekerjaan yang perencanaan.
  4. Tampak sebagai pekerja yang cakap.
  5. Gerakan-gerakannya cukup menunjukkan tiadanya keragu-raguan.
  6. Mengkoordinasikan tangan dan pikiran dengan cukup baik.
  7. Tampak cukup terlatih dank arena mengetahui seluk-beluk pekerjaannya.
  8. Bekerja cukup teliti.
  9. Secara keseluruhan cukup memuaskan.
FAIR SKILL :
  1. Tampak terlatih tapi belum cukup baik.
  2. Mengenai peralatan dan lingkungan secukupnya.
  3. Terlihat adanya perencanaan-perencanaan sebelum melakukan gerakan.
  4. Tidak mempunyai kepercayaan diri yang cukup.
  5. Tampak sepert tidak cocok dengan pekerjaannya tetapi telah ditempatkan dipekerjaan itu cukup lama.
  6. Mengetahui apa yang dilakukan dan harus dilakukan tetapi tampak tidak selalu yakin.
  7. Sebagian waktu terbuang karena kesalahan-kesalahan sendiri.
  8. Jika tidak bekerja dengan sungguh-sungguh outputnya akan sangat rendah.
  9. Biasanya tidak ragu-ragu dalam menjalankan gerakan-gerakannya.
POOR SKILL :
  1. Tidak bias mengkoordinasikan tangan dan pikiran.
  2. Gerakan-gerakannya kaku.
  3. Kelihatan tidak yakin pada urutan-urutan gerakan.
  4. Seperti yang tidak terlatih untuk pekerjaan yng bersangkutan.
  5. Tidak terlihat adanya kecocokan dengan pekerjaan.
  6. Ragu-ragu dalam menjalankan gerakan-gerakan kerja.
  7. Sering melakukan kesalahan-kesalahan.
  8. Tidak adanya kepercayaan pada diri sendiri.
  9. Tidak bias mengambil inisiatif sendiri.
Secara keseluruhan tampak pada kelas-kelas diatas bahwa yang membedakan kelas seseorang adalah keragu-raguan, ketelitian gerakan, kepercayaan diri, koordinasi, irama gerakan, bekas-bekas latihan dan hal-hal lain yang serupa.
Untuk usaha cara Westing house membagi juga atas kelas-kelas dengan cirri masing-masing. Yang dimaksudkan dengan usaha disini adalah kesungguhan yang ditunjukkan atau diberikan operator ketika melakukan pekerjaannya. Berikut ini ada 6 (enam ) kelas usaha dengan cirri-cirinya :
EXCESSIVE EEFORT :
  1. Kecepatan sangat berlebihan.
  2. Usaha sangat bersungguh-sungguh tetapi dapat membahayakan kesehatannya.
  3. Kecepatan yang ditimbulkannya tidak dapat dipertahankan sepanjang hari kerja.
EXELENT EFFORT :
  1. Jelas terlihat kecepatan kerjanya yang tinggi.
  2. Gerakan-gerakan lebih ekonomis daripada operator-operator biasa.
  3. Penuh perhatian pada pekerjaannya.
  4. Banyak memberi saran-saran.
  5. Menerima saran-saran dan petunjuk dengan senang.
  6. Percaya pada kebaikan maksud pengukuran waktu.
  7. Tidak dapat bertahan lebih dari beberapa hari.
  8. Bangga atas kelebihannya.
  9. Gerakan-gerakan yang salah terjadi sangat jarang sekali.
  10. Bekerjanya sistematis.
  11. Karena lancarnya, perpindahan dari suatu elemen keelemen lainnya tidak terlihat.
GOOD EFFORT :
  1. Bekerja berirama.
  2. Saat-saat menganggur sangat sedikit bahkan kadang-kadang tidak ada.
  3. Penuh perhatian pada pekerjaannya.
  4. Senang pada pekerjaannya.
  5. Kecepatan baik dan dapat dipertahankan sepanjang hari.
  6. Percaya pada kebaikan maksud pengukuran waktu.
  7. Menerima saran-saran dan petunjuk dengan senang hati.
  8. Dapat memberi saran-saran untuk perbaikan kerja.
  9. Tempat kerjanya diatur baik dan rapi.
  10. Menggunakan alat-alat yang tepat dengan baik.
AVERAGE EFFORT :
  1. Tidak sebaik good, tetapi lebih baik dari poor.
  2. Bekerja dengan stabil.
  3. Menerima saran-saran tetapi tidak melaksanakannya.
  4. Set up dilaksanakan dengan baik.
  5. Melakuka kegiatan-kegiatan perencanaan.
FAIR EFFORT :
  1. Saran-saran perbaikan diterima dengan kesal.
  2. Kadang-kadang perhatian tidak ditujukan pada pekerjaannya.
  3. Kurang sungguh-sungguh.
  4. Tidak mengeluarkan tenaga dengan secukupnya.
  5. Terjadi sedikit penyimpangan dari cara kerja baku.
  6. Alat-alat yang dipaki tidak selalu yang terbaik.
  7. Terlihat adanya kecenderungan kurang perhatian pada pekerjaannya.
  8. Terlampau hati-hati.
  9. Sistematika kerjanya sedang-sedang saja.
  10. Gerakan-gerakannya tidak terencana.
POOR EFFORT :
  1. Banyak membuang-buang waktu.
  2. Tidak memperhatikan adanya minat bekerja.
  3. Tidak mau menerima saran-saran.
  4. Tampak malas dan lambat bekerja.
  5. Melakuka gerakan-gerakan yang tidak perlu untuk mengambil alat-alat dan bahan-bahan.
  6. Tempat kerjanya tidak diatur rapi.
  7. Tidak peduli pada cocok/ baik tidaknya peralatan yang dipakai.
  8. Mengubah-ubah tata letak tempat kerja yang telah diatur.
  9. Set up kerjanya terlihat tidak baik.

Yang dimksud dengan kondisi kerja pada cara Westinghouse adalah kondisi fisik lingkungannya Seperti keadaan pencahayaan, temperature, kebisingan ruangan. Kondisi kerja dibagi 6 (enam) kelas yaitu ideal, exellent, good, average, fair, dan poor. Kondisi yang ideal tidak selalu sama bagi setiap pekerjaan karena berdasarkan karateristik masing-masig pekerja membutuhkan kondisi ideal sendiri-sendiri. Suatu kondisi yang dianggap good untuk satu pekerjaan dapat saja dirasakan sebagai fair atau bahkan poor bagi pekerjaan yang lain. Pada dasarnya komdisi ideal adalah kondisi yang cocok bagi pekerjaan yang bersangkutan, yaitu yang memungkinkan performance maksimal dari pekerja. Sebaiknya kondisi poor adalah kondisi lingkungan yang tidak membantu jalannya pekerjaan bahkan sangat menghambat pencapaian performance yang baik.
Konsistensi perlu diperhatikan karena kenyataan bahwa pada setiap pengukuran waktu angka-angka yang dicatat tidak semuanya sama, waktu penyelesaian yang ditunjukkan pekerja selalu berubah-ubah dari satu siklus kesiklus lainnya, dari jam ke jam, bahkan dari hari ke hari. Sebagaimana halnya dengan faktor-faktor lain, Konsisternsi juga dibagi 6 (enam) kelas yaitu : perfect, exellent, good, average, fair, dan poor.

sumber : Iftikar Z. Sutalaksana,  buku Teknik Perancangan Sistem Kerja
Semoga bermanfaat, budayakan silaturahmi dengan meninggalkan komentar anda

Chapter 2 : Analisa & Perancangan Kerja


Perencanaan kerja ( work design ) bertujuan untuk menentukan metode terbaik dalam melaksanakan operasi operasi kerja yang diperlukan dalam sebuah proses produksi sebagai upaya untuk meningkatkan produktivitas kerja.

Adapun aplikasi dari perencanaan kerja ini diantaranya ialah :

  1. Pengembangan tata cara kerja ( work methods ) yang lebih efektif dan efisien serta mengurangi kegiatan – kegiatan operasi yang tidak produktif dan terkait secara langsung dengan proses penambahan nilai dari produk yang sedang dikerjakan.

  2. Pengaturan kondisi dan lingkungan kerja yang lebih ergonomis sehingga dapat menciptakan kenyamanan dan keamanan bagi pekerja sebagai upaya untuk mempertahankan motivasi kerja yang dimilikinya.

  3. Pemanfaatan dan pendayagunaan seluruh input produksi yang ada secara maksimal, terutama pendayagunaan sumber daya manusia, dimana diperlukan analisa jabatan yang tepat dan akurat sehingga semua jabatan dipegang oleh orang yang memiliki kecakapan yang memadai.

Untuk melakukan proses perencanaan kerja tersebut, biasanya dilakukan melalui dua tahap, yaitu :

  1. Langkah studi dan analisa tata cara kerja ( methods study atau job design )

  2. Langkah pengukuran kerja ( work measuremen atau time study ) yang akan dibahas pada chapter 3 berikutnya.

Langkah studi dan analisa tata cara kerja

pada langkah ini akan dianalisa seluruh aktivitas operasional yang dilakukan dalam proses produksi. Melalui analisa ini akan dianalisa secara seksama untuk memperjelas komponen tugas – tugas dari masing – masing bagian dalam proses produksi. Disini akan dilihat pola hubungan yang terjadi antara manusia dengan mesin dan lingkungan kerjanya dalam sebuah stasiun kerja, sehingga akan diperoleh kondisi kerja yang dapat meningkatkan efektivitas dan efisiensi sebagai upaya untuk mencapai produktivitas yang tinggi.

Pendayagunaan secara efektif tentang fungsi dan peranan manusia sebagai bagian dari sistem proses produksi haruslah melalui pertimbangan perancangan kerja yang sesama. Dalam peranannya sebagai bagian dari proses produksi, manusia umumnya akan bertanggung jawab terhadap 3 fungsi dasar, yaitu :

  1. Menerima data atau informasi mengenai apa yang harus dikerjakan atau perlu segera diambil tindakan, adapun data dan informasi tersebut diperoleh baik secara visual maupun audio atau pendengaran.

  2. Mengolah informasi, membentuk persepsi dan memberikan keputusan terhadap informasi yang telah diolah tadi.

  3. Melakukan tindakan ( action ) sesuai dengan keputusna yang telah diambil baik melalui aktivitas fisik maupun aktivitas mental.

Dalam pembahasan Analisa tata cara kerja ini kita akan menemukan beberapa istilah istilah yang terkait, yaitu :

  1. Job Specialization.

    Merupakan upaya untuk merumuskan secara spesifik aktivitas – aktivitas baik mental maupun fisik serta tanggung jawab / wewenang yang harus dilakukan oleh seseorang sehingga akan dapat dengan mudah untuk ditentukan tolak ukur hasil kerja serta kendala – kendala yang dihadapinya.

    Melalui spesialisasi pekerjaan ini, akan dapat diperoleh beberapa keuntungan, diantaranya ialah kecepatan kerja dapat dikembangkan karena operator dapat mengkhususkan diri pada satu atau dua kegiatan saja, kemudia melaui spesialisasi ini akan dapat mengefisiensikan waktu yang tidak produktif seperti waktu set up.

    Selasin dapat meningkatkan produktivitas kerja, pendekatan ini juga memiliki beberapa kekurangan, diantaranya ialah bahwa pekerjaan akan menjadi monoton , rutin dan membosankan sehingga berpotensi menyebabkan terjadinya “ labor turn over “ dan “absenteeism “ yang tinggi. Pekerja akan mengalami keterhambatan dalam pengembangan dirinya akibat dari penciptakaan kondisi kerja yang hanya menekankan pada efektifitas dan efisiensi aspek aspek teknis serta mengabaikan kondisi psikologis dalam upaya mendapatkan kepuasan kerja. Spesialisasi pekerjaan yang pada awalnya bertujuan untuk meningkatkan produktivitas pekerjaan, akhirnya memberikan kesan bahwa manusia hanya dibutuhkan tenaga fisiknya saja dan mengabaikan pengembangan diri serta keadaan psikologisnya. Hal tersebut dalam waktu yang lama akan dapat menurunkan motivasi kerja karyawan yang pada akhirnya justru akan menurunkan produktivitas kerja yang seharusnya naik.

    Untuk mengatasi dampak negatif dari penerapan spesialisasi kerja tersebut, maka diperlukan beberapa langkah, diantaranya ialah job rotation ( pertukaran kerja ) , job enlargement ( pembesaran kerja ) dan job enrichmen ( pengkayaan kerja )

  2. Job Rotation.

    Pertukaran kerja diantara kelompok kerja dalam frekuensi yang cukup sering. Dengan adanya pertukaran tersebut diharapkan dampak negatif dari spesialisasi kerja seperti keadaan yang monoton dan kebosanan akibat pekerjaan yang terlalu terspesialisasi dapat diatasi, selain itu melalui pertukaran pekerjaan ini diharapak pekerja dapat mengembangkan kemampuannya pada aktivitas kerja yang lainnya. Melalui rotasi pekerjaan ini maka produktivitas akan dapat meningkat terutama apabila masalah rutinitas telah menunjukkan gelaja “ labor turn over “ dan “ absenteeism “ yang tinggi.

Funny job rotation

    Namun bukan berarti penerapan cara ini tidak memiliki kekurangan, kekurangan yang dihadapai dalam penerapannya ialah lebih kepada faktor individu yang enggan pindah dan melakukan rotasi karena keengganan untuk memulai dari awal ( belajar dari awal ) aktivitas yang baru yang membutuhkan penyesuaian. Kelemahan lainnya ialah bahwa dengan job rotation ini hanya bisa diterapkan pada level pekerjaan yang tidak memerlukan spesialisasi pekerjaan yang terlalu jauh berbeda, sehingga pekerja tidak memerlukan tantangan dalam suasana barunya tersebut.

  1. Job Enlargement.

    Merupakan upaya untuk memperluas atau memperbanyak aktivitas – aktivitas pekerjaan yang harus dilakukan oleh seseorang sesuai dengan keinginannya sebagai pemuasan psikologis utnutk memberikan kontribusi yang sebesar-besarnya pada peningkatan produktivitas. Dikenal dua bentuk job enlargement, yaitu :

    1. Job enlargement horizontal. Pekerja akan dibebani aktivitas pekerjaan yang sama tetapi dengan target output yang lebih besar. Peningkatan output tersebut akan diimbangi dengan pemberian insentif yang berbanding lurus. Semakin besar output yang dihasilkan maka akan semakin besar pula insentif yang akan diterimanya. Setidaknya melalui cara ini pekerja akan sedikit melupakan rasa bosan akibat rutinitasnya meskipun melalui cara ini belum banyak membawa perubahan terkait kepuasan psikologis yang ingin dicapai oleh pekerja, sebab variasi pekerjaan dan kemampuan pekerja juga tidak banyak bertambah.

    2. Job enlargement vertical. Pekerja akan dibebani tugas dan tanggung jawab yang lebih bervariasi dari aktivitas sebelumnya. Jika biasanya mungkin pekerja pada aktivitas sebenarnya tidak diberikan kesempatan untuk melakukan kegiatan supervisi, maka pada job enlargement vertical ini pekerja akan diberikan kesempatan untuk itu, seperti pengendalian kualitas output pekerjaan.

  2. Job enrichment.

    Merupakan kombinasi dari job enlargement vertical dan horizontal. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk menjadikan perkejaan tersebut menjadi menarik dan memuaskan sehingga moral pekerja dapat meningkat yang pada akhirnya dapat mencapai produktivitas yang baik. Dibandingakan job rotation, job enlargement dan enrichment akan memberikan dampak yang lebih baik pada psikologis pekerja. Kelemahan dari kedua cara tersebut ialah dalam menentukan tolak ukur optimal atau tidaknya perubahan yang dicapai.

Jadi dpat disimpulakan bahwa dalam perancangan kerja , maka faktor manusia dan interaksinya dengan mesin ( peralatan, fasilitas , dsb ) merupakan faktor yang harus tetap diperhitungkan. Pekerja sebagai bagian dari komponen proses produksi haruslah pula dipenuhi kepuasan – kepuasan sosial psikologinya disamping pemenuhan aspek aspek teknis dari aktivitas produksi tersebut.

Disinilah letak peranan ilmu ergonomi, dimana kita dapat lebih mengetahui kemampuan – kemampuan dan keterbatasan – keterbatasan yang dimiliki oleh manusia sebagai bagian dari komponen produksi dengan mempelajari karakteristik karakterisitik yang dimiliki oleh manusia seperti kecepatan gerak, keandalan menerima,mengolah informasi dan menjalankan instruksi yang ada. Studi ergonomi akan memberikan alternatif terbaik yang harus dipilih antara pekerjaan yang harus dilakukan oleh manusia atau mesin.



Semoga bermanfaat, budayakan silaturahmi dengan meninggalkan komentar anda

Ergonomi ( lanjutan.... )



gambar pengukuran anthropometri statis

Pada pembahasan sebelumnya kita telah mengetahui tentang definisi dan ruang lingkup dari Ergonomi, seperti pada pembahasan sebelumnya, kita mengetahui bahwa ergonomi focus pada pembahsan mengenai interaksi yang dilakukan oleh manusia dengan peralatan dan lingkungan kerjanya. Secara sederhana pendekatan ergonomic digunakan pada perancangan peralatan, fasilitas dan lingkungan kerja agar lebih sesuai dengan manusia sehingga pada akhirnya akan dapat meningkatkan efisiensi, kenyamanan, keamanan, kesehatan dan efektifitas sebagai upaya untuk meningkatkan produktivitas kerja.

Dalam konteks perancangan peralatan, fasilitas dan lingkungan kerja, kita akan menjumpai istilah Anthropometri, pakah anthropometri itu ? dan seperti apakah peranannya dalam perancangan peralatan, fasilitas dan lingkungan kerja ?

Istilah Anthropometri berasal dari ”anthro” yang berarti manusia dan ”metri” yang berarti ukuran, sehingga anthropometri dapat didefinisikan sebagai studi yang berkaitan dengan pengukuran dimensi tubuh manusia. Lantas apakah hungan antara studi athropometri dengan perancangan peralatan, fasilitas dan lingkungan kerja ?.


Seperti yang kita ketahui bersama bahwa setiap manusia memiliki bentuk dimensi ukuran ( panjang, tinggi,lebar, dsb ) antara satu dengan yang lainnya. Sehingga dalam merancang suatu produk atau sistem maka sangat perlu dipertimbangkan apakah produk, peralatan atau sistem kerja tersebut telah sesuai dengan manusia pengguna ataukan belum. Data anthropometri secara luas akan menjadi bahan pertimbangan dalam perancangan peralatan,fasilitas dan lingkungan kerja, data anthropmetri akan menjadi dasar bagi bentuk, ukuran dan dimensi suatu peralatan, produk, fasilitas dan lingkungan kerja agar sesuai dengan manusia penggunanya.

Setelah kita mengetahui tentang definisi dan peranan anthropometri, maka kita akan sedikit membahas mengenai bagaimana cara melakukan studi anthropometri tersebut ?

Sebagai studi yang berkaitan dengan pengukuran dimensi tubuh manusia, maka seorang perancang harus mengetahui terlebih dahulu faktor – faktor yang mempengaruhi pengukuran imensi tubuh manusia tersebut, faktor – faktor tersbut diantaranya ialah :

  1. Umur. Pertumbuhan manusia sangat dipengauhi oleh faktor umur, semakin bertambah usia manusia maka pertumbuhan yang terjadi akan semakin lambat dan mencapai puncaknya yang pada akhirnya akan menunjukkan kurva penurunan atau penyusutan. Untuk jenis kelamin laki – laki pertumbuhan akan terus terjadi hingga pada umumnya akan mencapai usia maksimal 23,5 tahun, dan 21,1 tahun untuk wanita.

  2. Jenis kelamin. Dimensi ukuran tubuh pria cenderaung lebih besar dibandingkan wanita, kecuali pada beberapa bagian tubuh seperti pinggul, dsb

  3. Suku bangsa ( ethnic ). Setiap suku bangsa atau etnik akan memiliki dimensi tubuh yang berbeda – beda, bangsa eropa sebagai contohnya memiliki dimensi tubuh yang lebih besar jika dibandingkan dengan suku bangsa kita.

  4. Posisi tubuh. Posisi tubuh akan mempengaruhi pengukuran, oleh sebab itu perlua danya standar posisi tubuh untuk mempermudah pengukuran. Dikenal dua jenis pengukuran dalam hal ini.

    1. Pengukuran dimensi struktur dimensi tubuh (structural body dimensions ) atau dikenal juga dengan istilah static anthropometri. Pengukuran ini dilakukan dalam posisi tetap atau diam yang meliputi pengurkuran berat badan, tinggi tubuh, ukuran kepala, panjang lengan dan sebagainya.

    2. Pengukuran dimensi fungsional tubuh ( functional body dimensions ) atau dikenal juga dengan istilah dinamic anthropometri. Pengukuran dinamis dilakukan pada posisi tubuh saat melakukan gerakan – gerakan tertentu yang berkaitan dengan aktivitasnya. Aplikasi dinamic anthropometri ini banyak diterapkan pada perancangan ruang dan fasilitas kerja

Sumber gambar :
  • Harry H. Laughlin, The Second International Exhibition of Eugenics held September 22 to October 22, 1921, in connection with the Second International Congress of Eugenics in the American Museum of Natural History, New York (Baltimore: William & Wilkins Co., 1923).

Semoga bermanfaat, budayakan silaturahmi dengan meninggalkan komentar anda

Chapter 1 : Ergonomi


Baiklah, untuk bahasan yang pertama marilah kita kaji terlebih dahulu mengenai ilmu ergonomi.

Pernahkah anda mendengar orang yang mempromosikan suatu barang dengan mengatakan bahwa barang yang dijualnya itu adalah barang yang ergonomis ?, tau mungkin anda juga pernah mendengar ada orang yang berkata bahwa peralatan yang anda gunakan tidak ergonomis ?. Sebenarnya apakah yang dimaksud dengan ergonomi itu ?, kemudian apakah peranannya dalam kehidupan kita sehari – hari.

Ergonomi berasal dari bahsa Yunani yaitu ERGO yang berarti Kerja dan NOMOS yang berarti Hukum. Sehingga sering didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari manusia dalam kaitannya dengan pekerjaannya.

Isitilah ergonomi lebih populer digunakan di beberapa negara eropa barat, di Amerika ergonomi lebih dikenal dengan isitilah Human Engineering, isitilah isitilah yang lainnya yang punya maksud yang sama diantaranya ialah Biomechanics dan Engineering Psychology.

Awalnya ilmu ini berkembang sejak perang dunia ke II, dimana ketika itu pihak sekutu mengalami banyak kegagalan terhadap peralatan tempur produksinya,seperti Radar, Pesawat tempur, senapan yang tidak efektif ketika digunakan, sehingga akibatnya banyak terjadi kesalahan – kesalahan bahkan kecelakaan yang semata – mata tidak terjadi karena kekurangmampuan personilnya melainkan penggunaan peralatan tempur yang berpotensi menyebabkan terjadinya human error.

Hal ini tentu saja mendatangkan kerugian bagi militer, sehingga mendorong untuk dilakukannya penelitian penelitian yang berkaitan dengan interaksi manusia dengan peralatanmya. Penelitian – penelitian ini akhrnya berkembang bukan hanya untuk kepentingan militer saja melainkan meluas ke berbagai rancangan peralatan dan fasilitas kerja yang berhubungan dengan manusia.

Jadi jelaslah bagi kita bahwa disiplin ilmu ergonomi adalah disiplin ilmu yang memanfaatkan informasi – informasi mengenai sifat, kemampuan dan keterbatasan manusia dalam rangka membuat sistem kerja atau peralatan kerja,fasilitas dan lingkungan kerja yang Efektif, Nyaman, Aman,Sehat dan Efisien ( ENASE ).

Analisis dan penelitian ergonomi akan meliputi hal – hal yang berkaitan dengan:

  1. anatomi ( struktur ),Fisiologi ( bekerjanya ),Anthropometri ( ukuran ) tubuh anusia

  2. Psikologi yang fisiologis mengenai berfungsinya otak dan sistem syaraf yang berperan dalam tingkah laku manusia

  3. Kondisi – kondisi kerja yang dapat mencederai ataupun sebaliknya membuat nyaman, baik dalam jangka waktu pendek maupun panjang.

Contoh sikap tubuh yang tidak ergonomis ( source : iso.org )

Tanda – tanda suatu sistem atau peralatan kerja yang tidak ergonomis diantaranya ialah :

  1. Hasil kerja ( kualitas / kuantitas ) tidak memuaskan

  2. Sering terjadi atau hampir terjadi kecelakaan kerja

  3. Pekerja sering melakukan kesalahan ( human error )

  4. Postur kerja yang statis, sering membungkuk, menjangkau, dan jongkok

  5. Pekerja mudah lelah

  6. Keluhan akibat timbulnya nyeri pada otot,seperti lengan, bahu,pinggang, dan sebagainya

Semoga bermanfaat, budayakan silaturahmi dengan meninggalkan komentar anda

Kuliah APK & Ergonomi


Kuliah yang dapat anda peroleh pada semester 6 ini intinya membahas 3 pokok permasalahan, pertama ialah membahas masalah studi tata cara kerja ( metode ) kerja,seperti teknik penyederhanaan pekerjaan, pembahasan kedua membahas mengenai proses pengukuran kerja dan teknik – teknik untuk mengaplikasikannya, kemudian pada bahasan yang ketiga terutama mengenai ilmu ergonomi itu sendiri dalam kaitannya dengan keterlibatan manusia dengan aktivitas produksi yang dilakukannya. Sebagian besar rangkuman materi ini berasal dari buku berjudul “ Ergonomi, Study Gerak dan Waktu” karangan Ir. Sritomo Wignjosoebroto,M.Sc


Mungkin anda akan bertanya – tanya, apa sich pentingnya mempelajari APK dan Ergonomi ini ?, berikut coba saya jelaskan dengan pemikiran saya yang sederhana ini.. ( cie cie.. hehe )

Secara sederhana dapat dijelaskan bahwa tujuan yang ingin dicapai oleh manusia dari setiap aktivitas yang dilakukannya ialah untuk mendapatkan keuntungan. Seorang pengusaha bertaruh modal dalam usahanya dengan harapan akan memperoleh penambahan jumlah nilai modal setelah melalui serangkaian proses. Kemudian seorang pekerja juga berusaha menghasilkan output yang besar dari pekerjaannya dengan mengorbankan sedikit biaya dan waktu dengan harapan akan mendapatkan keuntungan yang maksimal pula. Dengan demikian itu berarti bahwa semua orang telah berupaya meningkatan produktivitasnya untuk memperoleh hasil atau keuntungan yang maksimal.

Dengan mengetahui besarnya nilai produktivitas yang berhasil dicapai, maka dapat diketahui seberapa efektif proses produksi yang telah dilakukannya, serta seberapa efisien sumber daya telah dihemat untuk meningkatkan output.

Peningkatan produktivitas akan memberikan banyak manfaat bagi perusahaan, salah satu manfaat utamanya ialah dapat menurunkan biaya proses produksi. Seperti diketahui bahwa produktivitas merupakan perbandingan ( rasio ) antara output dalam hal ini jumlah unit yang dihasilkan dan input yang dikeluarkan dalam satuan moneter (rupiah). Sesuatu dikatakan memiliki produktivitas yang baik jika perbandingan antara input dan outputnya besar, itu artinya produktivitas dapat tercapai jika jumlah output yang dihasilkan lebih besar atau tetap, sedangkan input yang dikeluarkan berkurang.

Berkaitan cara mengurangi atau mengefektifkan dan mengefisiensikan input dalam suatu proses produksi, maka analisa ergonomi dan perancangan kerja ( studi gerak dan waktu ) akan memainkan peranan yang penting dalam upaya peningkatan produktivitas kerja melalui upaya – upaya untuk memberikan kontribusi yang maksimal dalam meningkatkan nilai tambah pada proses produksi, serta sebaliknya berusaha menghindari atau meminimalkan kegiatan – kegiatan dan tata cara ( metode ) kerja yang tidak produktif seperti banyaknya idle/delays,cara kerja yang tidak terstandarisasi, dan sebagainya.


contoh perbaikan sistem kerja ( source : JINIOSH Japan )



Semoga bermanfaat, budayakan silaturahmi dengan meninggalkan komentar anda