Tau Samawa Akan Terpinggirkan Oleh Pendatang

Tau Samawa Akan Terpinggirkan Oleh Pendatang

suatu pandangan terhadap sifat "lemang"dan "tingi ate" dan hubungannya terhadap peningkatan sumber daya manusia masyarakat samawa
oleh : ade rafiansyah

Beberapa kesempatan terakhir ini entah kenapa saya begitu bergairah membaca beberapa postingan tentang tanah kelahiran saya, samawa . Ada satu tulisan yang menarik yang diterbitkan di www.sumbawanews.com berjudul “ Pusat Kajian Adat Dan Budaya Samawa (PKABS) ”IYAK SAMAWA” “tulisan Bapak Putra Adi Soerjo direktur lembaga kajian tersebut. Sungguh menarik kajian – kajian yang disampaikan oleh beliau menyangkut kinerja pemerintah di berbagai sektor terutama pendidikan dan kesejahteraan masyarakat samawa. Selain itu komentar dari beberapa pembaca terhadap tulisan itu juga cukup menarik untuk disimak.
Yang paling menarik untuk dibahas adalah tentang sektor pendidikan dan kualitas sumber daya manusianya. Dalam tulisan tersebut disampaikan bentuk – bentuk keprihatinan terhadap kondisi tana samawa saat ini, disebutkan sebuah fakta bahwa samawa menempati urutan ke 32 dari 33 provinsi indonesia tentang IPM ( indeks Prestasi manusia ), sebuah hal yang kontradiktif saat ini dimana banyak pemuda – pemuda samawa keluar dan pergi untuk menuntut ilmu ke luar samawa seperti ke kota malang dan jogjakarta yang menjadi favorit. Itu artinya ada banyak orang yang pulang membawa bekal ilmu yang idealnya untuk kemajuan tana samawa, namun jauh dari harapan tidak semua rekan – rekan mahasiswa kembali ke samawa dan terlibat secara aktif dalam pembangunan alias menjadi penganggur terdidik. Setidaknya itulah hasil “nyangkok”( ngobrol ) saya bareng teman – teman mahasiswa yang sudah “mole”( pulang ) ke sumbawa di facebook, sebuah situs jejaring sosial di internet.
Mengapa menganggur ?, bukankkah ilmu yang dibawa dari tanah jawa cukup mumpuni untuk membangun kota Samawa?, bukankah sebagian juga menempuh pendidikan di Perguruan – Perguruan tinggi yang cukup populer dan bonafit ?.

Tulisan berikut ini hanya sedikit kajian hubungan antara sikap Lemang ( malas ) dan Tingi ate ( gengsi ) serta hubungannya dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia masyarakat samawa pada umumnya berdasarkan pengalaman dan pengamatan penulis.

Lemang ( malas ) dan Peningkatan kualitas SDM

Menurut Ibnu Sina, sebelum membicarakan konsep maka sebaiknya membicarakan definisi agar konsep dapat terarah sesuai dengan definisi sehingga tidak menjadi semu dan menyebabkan multi tafsir. Sikap malas atau lemang sulit untuk didefinisikan berdasarkan satu sudut pandang, jika kita mengambil sudut pandang orang kebanyakan di negara kita misalnya,malas dapat diartikan tidak melakukan kegiatan apapun yang produktif atau lebih mudah disebut menganggur. Namun jika kita mengambil sudut pandang masyarakat yang lebih maju, seperti jepang misalnya maka malas diartikan sebagai tidak bersungguh – sungguh dalam bekerja dan memaksimalkan setiap potensi yang dimiliki, definisi ini tersirat dalam buku berjudul “ rahasia bisnis orang jepang “ karya Ann Wan Seng. Definisi kedua tentu tidak bisa kita jadikan patokan, sebab tersirat dalam definisi itu bahwa yang menjadi objeknya adalah manusia yang rata – rata “ bekerja “. Namun kenyataanya kita akan membahas masalah yang lebih kompleks daripada itu dimana yang menjadi objek bukan saja manusia yang telah bekerja tetapi manusia yang menganggur juga, maka tidak salah kalau kita mendefinisikan malas adalah melakukan kegiatan yang tidak produktif atau tidak menghasilkan sesuatu.
Penyebab kemalasan sangat dipengaruhi oleh lingkungan sekitar, jika sesorang berada pada suatu komunitas atau lingkungan yang terbiasa bersantai – santai dan tidak memiliki target – target untuk pengembangan potensi, maka bisa dipastikan orang tersebut akan menjadi malas. Begitu pula sebaliknya, jika seseorang berada pada lingkungan yang terbiasa berkompetisi dan memiliki target pencapaian kesuksesan, maka orang tersebut akan menjadi rajin dan bersemangat.
Seseorang yang merasa telah mendapatkan kesuksesan di dalam lingkungan yang terbiasa santai, maka ia akan merasa tidak perlu lagi untuk mengembangkan potensinya karena ia merasa tingkatannya telah berada di level atas jika dibandingkan orang lain di dalam komunitas “ nyantai “ itu. Sebaliknya jika orang tersebut pindah ke suatu komunitas yang lebih tinggi, maka ia justru merasa berada pada level bawah jika dibandingkan dengan orang lain didalam komunitas yang lebih tinggi ini. Idealnya maka akan terjadi perubahan sikap dari malas menjadi rajin, karena memang sudah menjadi sifat dasar manusia ketika suatu waktu dia menjadi nomor satu dan mendapatkan semua keuntungan di dalamnya, dan kemudian suatu waktu menjadi urutan terbawah dengan semua kerugian didalamnya, maka dia akan berusaha bangkit dan memperoleh keuntungannya kembali ketika menjadi nomor satu.
Jika berkenan untuk dianalogikan, kita anggap saja seorang calon mahasiswa yang akan menempuh pendidikan ke luar samawa, dimana sang mahasiswa ini masih memiliki karakter sedikit malas akibat dari pergaulan dalam komunitas yang cenderung nyantai seperti di samawa ini. Kemudian sang mahasiswa memilih menempuh studi di pulau jawa yang nota bene memiliki karakter masyarakat yang tentu saja sedikit lebih maju, termasuk budaya persaingan dan kompetisi yang sudah menjadi kebiasaan dan tuntutan disana. Jika sang mahasiswa tidak dapat beradaptasi dengan lingkungan seperti itu, bisa dipastikan dia akan kesulitan untuk menyelesaikan studinya. Sehingga mau tidak mau dia harus terjun dan terbiasa dengan budaya kompetisi yang akan melahirkan sikap rajin itu. Ketika studi sang mahasiswa selesai maka dia akan kembali ke sumbawa, yang artinya dia kembali ke sebuah komunitas yang berada ( maaf ) secara kualitas berada dibawah masyarakat jawa. ( lihat peringkat IPM masyarakat samawa ). Artinya menjadi pilihan baginya untuk menjadi pemenang dengan mepertahankan kualitasnya atau menjadi kalah dengan menghancurkan potensi yang sudah berkembang karena sikap malas yang kembali muncul.

Tingi ate ( gengsi ) dan peningkatan kualitas SDM

Gengsi atau tingi ate dalam bahasa sumbawa umumnya diartikan sebagai harga diri, sesorang yang memiliki harga diri yang tinggi tentu saja menolak untuk disamakan dengan orang yang berharga diri rendah menurut pendapatnya. Gengsi atau tingi ate ini merupakan fenomena masyarakat sumbawa saat ini. Hal ini dapat terlihat dari sikap dan prilaku sehari – hari masyarakatnya. Jika di kota – kota besar lainnya di indonesia, tidak jarang kita jumpai para pelajar atau mahasiswa bahkan para pegawai masih mau mengayuh sepeda ke sekola atau ke kampus dan kantor. Namun di sumbawa jarang sekali kita jumpai yang seperti ini terutama untuk level pendidikan menengah ke atas. Bemo dengan fasilitas “ajep – ajep” rupanya tetap menjadi primadona bagi pelajar samawa, bukan pemandangan yang asing jika setiap pagi kita melihat kerumunan pelajar menungu bemo di beberapa tempat di kota samawa. Anehnya selain menjadi primadona, Bemo juga menjadi kambing hitam jika terlambat sampai ke sekolah. Padahal jika mau di telisik lebih jauh, kota samawa bukanlah kota yang besar, artinya jarak satu tempat ke tempat yang lainnya relatif dekat.
Contoh lainnya cukup nyata terlihat pada prosesi pernikahan. Jarang sekali di sumbawa kita melihat pernikahan sederhana seperti yang sering di jumpai di kota – kota besar, contohnya semarang yang kebetulan tempat penulis sedang meempuh studi. Di Semarang orang menikah dengan mahar seadanya dan sering pula tanpa resepsi besar – besaran dan itu bukanlah hal yang asing di Semarang, bahkan sahabat saya pernah menikah dengan biaya kurang dari 5 juta, 5 juta di semarang tentu berbeda nilainya dengan 5 juta di sumbawa bukan ?.
Pada dasarnya sikap gengsi dapat melahirkan dampak positif dan negatif. Gengsi terhadap hal – hal yang “buruk” seperti gengsi mencuri, menipu dan sebagainya dapat disebut berdampak positif, sebaliknya gengsi untuk hal – hal yang “baik” seperti bekerja keras, hidup sederhana dan sebagainya dapat disebut berdampak negatif. Pertanyaannya saat ini adalah mana yang “baik”dan mana yang “buruk” dalam persfektif masyarakat sumbawa pada umumnya.
Untuk menjawab pertanyaan ini tentu saja dibutuhkan data – data yang cukup akurat sebab menyampaikan penilaian tentang karakter masyarakat tertentu bukanlah hal yang sepele karena ini menyangkut harga diri itu sendiri. Hal yang dapat di lakukan saat ini adalah memberikan gambaran – gambaran bagaimana masyarakat samawa menentukan pilihan antara “baik”dan “buruk”.
Berkaitan dengan salah satu komentar terhadap tulisan yang diterbitkan oleh www.sumbawanews.com tadi, ketika orang samawa melihat pendatang bekerja sebagai pedagang kerupuk, bagi orang sumbawa hal itu tidak mungkin untuk dilakukan karena umumnya masyarakat samawa mengharapkan bekerja kantoran sebagai pegawai seperti PNS misalnya. Itu artinya lebih memilih menjadi pegawai dibandingkan pengusaha. Bahkan menjadi TKI merupakan pilihan daripada menjadi pengusaha dan bekerja keras dari bawah untuk membangun usaha di kotanya sendiri.

Keterkaitan antara Malas dengan Gengsi

Gengsi akan menyebabkan kemalasan, mengapa demikian ?. Karena gengsi dan malas merupakan karakter individu, orang yang memiliki gengsi atau harga diri tinggi tentu saja akan enggan melakukan sesutu yang tidak sesuai dengan standar harga dirinya,terlepas hal itu produktif atau tidak, dan keengganan itu diartikan sebagai kemalasan. Ketika orang samawa melihat kaum pendatang bekerja pada sektor informal ambil saja contoh menjadi pedagang kerupuk keliling, umumnya masyarakat samawa malu untuk melakukan hal yang sama, padahal berdagang kerupuk belum tentu tidak memiliki penghasilan yang lebih besar dari pada menjadi karyawan, anehnya setelah usaha kerupuk tersebut berhasil justru yang menjadi pekerja adalah orang samawa sendiri. Dari hal ini dapat disimpulkan menjadi karyawan dalam perspektif masyarakat sumbawa lebih baik jika dibandingkan dengan menjadi seorang wirausahawan. Disinilah letak permasalahan sebenarnya yang menyebabkan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat samawa umumnya menjadi lambat.

Solusi

Mempermasalahkan sesuatu tanpa memberikan solusi adalah sesuatu yang kurang bijak, maka diperlukan usulan dan wacana tentang solusi yang memungkinkan. Inti permasalahan sesungguhnya adalah karakter tingi ate atau gengsi, karena ini yang melahirkan sikap malas yang pada akhirnya menyebabkan hilangnya produktifitas dan kemampuan menggali potensi sumber daya individu masyarakat samawa.
Gengsi adalah sebuah karakter kejiwaan maka untuk mengobatinya diperlukan pendekatan kejiwaan pula. Sebagai masyarakat yang religius maka pendekatan melalui media agama adalah hal yang paling baik dan paling mudah diterapkan. Melaui nilai – nilai pemahaman spiritual perasaan gengsi yang dalam bahasa agama erat kaitannya dengan sifat riya ( sombong ) dapat “terobati”. Pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah harus selaras, bukan hanya pembangunan fisik namun pembangunan rohani masyarakat juga harus terus dilakuakan dilakukan. Karena keberhasilan pembangunan mustahil didapatkan oleh sumber daya manusia yang rendah kualitas moral dan akhlaknya. Melaui pemimpin – pemimpin yang memiliki akhlak dan moral yang baik maka peningkatan kualitas sumber daya masyarakatnya pun akan berjalan baik sehingga samawa dapat berkembang dan disejajarkan dengan kota – kota lainnya.

penulis adalah mahasiswa sumbawa yang sedang menyelesaikan studi di kota Semarang

0 komentar:

Poskan Komentar

silahkan tinggalkan komentar anda pada artikel dan web ini,kami sangat menghargai jika anda menggunakan bahasa yang baik dan santun.....

Terimakasih atas kunjungannya ke blog ini, penting !!! , artikel - artikel keilmuan TI di dalam blog ini sebagian besar berasal dari diktat-diktat kuliah saya, saya berupaya mencantumkan sumber dari setiap artikel TI yang dimuat, mohon kerjasamanya dengan meninggalkan komentar jika menemukan artikel yang "textbook" alias "copas" yang tidak tertulis sumbernya ya .
 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Macys Printable Coupons