think of industrial engineering, it's all about industrial engineering

Engineering Tools

Hati - Hati Posting Artikel di Blog


Hati - hati posting artikel di Blog
Cerita ini berawal dari waktu saya mencoba memposting sebuah artikel di blog ini. Seperti biasa sebelum artikel saya post kan di blog terlebih dahulu artikel tersebut saya ketik di Ms.word ( open office ), karena kalau ngetik langsung di blog gak efektif soalnya auto save punya blogger.com terkadang suka error, jadi bukannya di save malah bisa - bisa artikel yang telah diketik hilang.
Setelah artikel yang berjudul pengantar ekonomi Makro tersebut saya ketik, kemudian saya copy dan paste di post create blog, setelah itu saya mengatur sedikit read morenya, dan terakhir langsung klik terbitkan entri.

Memang kali ini agak sedikit berbeda, setelah terbitkan entri, muncul peringatan kesalahan HTML, peringatan yang sering muncul jika ditemukan kesalahan kode - kode html pada tulisan. Karena saya tidak merasa terdapat kesalahan ( sudah di cek berulang kali ) akhirnya saya memilih untuk mengabaikan peringatan tersebut dan tetap menerbitkan artikel.
Selang beberapa lama ketika membuka jendela tampilan blog.tada...!!!!Astaghfirullah .Hancur semua..!!!tampilan blog berantakan, kata seorang teman di facebook, tampilannya macam puzle...!!!Apa yang terjadi ???
sempat beberapa lama saya berfikir, karena kebetulan waktu itu cuaca panas sekali di luar, akhirnya tidur menjadi pilihan untuk menenangkan diri sementara ini ( hehehehehe ).
Sorenya sewaktu berangkat ke kerjaan, saya iseng buka facebook dan blog saya yang tampilannya masih tetap hancur. Apa hubungan antara blog dan facebook ?,ya karena ada teman facebook yang sedikit menyindir dan bercanda bilang kalau ini hanya taktik promo blog aja ( heheheh meskipun tidak sepenuhnya salah sich ). hal ini mengundang rasa penasaran saya untuk berjuang memperbaiki dan mendapatkan kembali blog tercinta ini.
Setelah saya utak - atik, saya melihat ketika postingan terakhir dibuka, blog tetap berantakan. kemudian saya mencoba membuka postingan lawas saya, dan aneh yang ini tampilannya normal. dari hal ini saya simpulkan jika postingan terakhir dihapus maka yang akan muncul adalah postingan lawas yang artinya tampilannya NORMAL.
Saya pun menghapus postingan terakhir, dan menggantinya dengaN tulisan ini. saya berharap setelah tulisan ini saya terbitkan tampilan akan kembali normal. Ada dua opsi jika tampilan tidak kembali normal, pertama saya akan ganti, yang kedua akan saya utak - atik terus sampai ketemu pokoknya...hehehehehe.baiklah terima kasih sudah sempat membaca,jika tampilannya kembali normal, itu berkat doa sobat - sobat semua,jika tidak tetap doakan saya ya, jadi saya masih bisa share materi - meteri kuliah disini bareng sobat - sobat semua.wassalamua'alaikum...ready..get set..GO...!!!!

Tau Samawa Akan Terpinggirkan Oleh Pendatang


Tau Samawa Akan Terpinggirkan Oleh Pendatang

suatu pandangan terhadap sifat "lemang"dan "tingi ate" dan hubungannya terhadap peningkatan sumber daya manusia masyarakat samawa
oleh : ade rafiansyah

Beberapa kesempatan terakhir ini entah kenapa saya begitu bergairah membaca beberapa postingan tentang tanah kelahiran saya, samawa . Ada satu tulisan yang menarik yang diterbitkan di www.sumbawanews.com berjudul “ Pusat Kajian Adat Dan Budaya Samawa (PKABS) ”IYAK SAMAWA” “tulisan Bapak Putra Adi Soerjo direktur lembaga kajian tersebut. Sungguh menarik kajian – kajian yang disampaikan oleh beliau menyangkut kinerja pemerintah di berbagai sektor terutama pendidikan dan kesejahteraan masyarakat samawa. Selain itu komentar dari beberapa pembaca terhadap tulisan itu juga cukup menarik untuk disimak.
Yang paling menarik untuk dibahas adalah tentang sektor pendidikan dan kualitas sumber daya manusianya. Dalam tulisan tersebut disampaikan bentuk – bentuk keprihatinan terhadap kondisi tana samawa saat ini, disebutkan sebuah fakta bahwa samawa menempati urutan ke 32 dari 33 provinsi indonesia tentang IPM ( indeks Prestasi manusia ), sebuah hal yang kontradiktif saat ini dimana banyak pemuda – pemuda samawa keluar dan pergi untuk menuntut ilmu ke luar samawa seperti ke kota malang dan jogjakarta yang menjadi favorit. Itu artinya ada banyak orang yang pulang membawa bekal ilmu yang idealnya untuk kemajuan tana samawa, namun jauh dari harapan tidak semua rekan – rekan mahasiswa kembali ke samawa dan terlibat secara aktif dalam pembangunan alias menjadi penganggur terdidik. Setidaknya itulah hasil “nyangkok”( ngobrol ) saya bareng teman – teman mahasiswa yang sudah “mole”( pulang ) ke sumbawa di facebook, sebuah situs jejaring sosial di internet.
Mengapa menganggur ?, bukankkah ilmu yang dibawa dari tanah jawa cukup mumpuni untuk membangun kota Samawa?, bukankah sebagian juga menempuh pendidikan di Perguruan – Perguruan tinggi yang cukup populer dan bonafit ?.

Tulisan berikut ini hanya sedikit kajian hubungan antara sikap Lemang ( malas ) dan Tingi ate ( gengsi ) serta hubungannya dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia masyarakat samawa pada umumnya berdasarkan pengalaman dan pengamatan penulis.

Lemang ( malas ) dan Peningkatan kualitas SDM

Menurut Ibnu Sina, sebelum membicarakan konsep maka sebaiknya membicarakan definisi agar konsep dapat terarah sesuai dengan definisi sehingga tidak menjadi semu dan menyebabkan multi tafsir. Sikap malas atau lemang sulit untuk didefinisikan berdasarkan satu sudut pandang, jika kita mengambil sudut pandang orang kebanyakan di negara kita misalnya,malas dapat diartikan tidak melakukan kegiatan apapun yang produktif atau lebih mudah disebut menganggur. Namun jika kita mengambil sudut pandang masyarakat yang lebih maju, seperti jepang misalnya maka malas diartikan sebagai tidak bersungguh – sungguh dalam bekerja dan memaksimalkan setiap potensi yang dimiliki, definisi ini tersirat dalam buku berjudul “ rahasia bisnis orang jepang “ karya Ann Wan Seng. Definisi kedua tentu tidak bisa kita jadikan patokan, sebab tersirat dalam definisi itu bahwa yang menjadi objeknya adalah manusia yang rata – rata “ bekerja “. Namun kenyataanya kita akan membahas masalah yang lebih kompleks daripada itu dimana yang menjadi objek bukan saja manusia yang telah bekerja tetapi manusia yang menganggur juga, maka tidak salah kalau kita mendefinisikan malas adalah melakukan kegiatan yang tidak produktif atau tidak menghasilkan sesuatu.
Penyebab kemalasan sangat dipengaruhi oleh lingkungan sekitar, jika sesorang berada pada suatu komunitas atau lingkungan yang terbiasa bersantai – santai dan tidak memiliki target – target untuk pengembangan potensi, maka bisa dipastikan orang tersebut akan menjadi malas. Begitu pula sebaliknya, jika seseorang berada pada lingkungan yang terbiasa berkompetisi dan memiliki target pencapaian kesuksesan, maka orang tersebut akan menjadi rajin dan bersemangat.
Seseorang yang merasa telah mendapatkan kesuksesan di dalam lingkungan yang terbiasa santai, maka ia akan merasa tidak perlu lagi untuk mengembangkan potensinya karena ia merasa tingkatannya telah berada di level atas jika dibandingkan orang lain di dalam komunitas “ nyantai “ itu. Sebaliknya jika orang tersebut pindah ke suatu komunitas yang lebih tinggi, maka ia justru merasa berada pada level bawah jika dibandingkan dengan orang lain didalam komunitas yang lebih tinggi ini. Idealnya maka akan terjadi perubahan sikap dari malas menjadi rajin, karena memang sudah menjadi sifat dasar manusia ketika suatu waktu dia menjadi nomor satu dan mendapatkan semua keuntungan di dalamnya, dan kemudian suatu waktu menjadi urutan terbawah dengan semua kerugian didalamnya, maka dia akan berusaha bangkit dan memperoleh keuntungannya kembali ketika menjadi nomor satu.
Jika berkenan untuk dianalogikan, kita anggap saja seorang calon mahasiswa yang akan menempuh pendidikan ke luar samawa, dimana sang mahasiswa ini masih memiliki karakter sedikit malas akibat dari pergaulan dalam komunitas yang cenderung nyantai seperti di samawa ini. Kemudian sang mahasiswa memilih menempuh studi di pulau jawa yang nota bene memiliki karakter masyarakat yang tentu saja sedikit lebih maju, termasuk budaya persaingan dan kompetisi yang sudah menjadi kebiasaan dan tuntutan disana. Jika sang mahasiswa tidak dapat beradaptasi dengan lingkungan seperti itu, bisa dipastikan dia akan kesulitan untuk menyelesaikan studinya. Sehingga mau tidak mau dia harus terjun dan terbiasa dengan budaya kompetisi yang akan melahirkan sikap rajin itu. Ketika studi sang mahasiswa selesai maka dia akan kembali ke sumbawa, yang artinya dia kembali ke sebuah komunitas yang berada ( maaf ) secara kualitas berada dibawah masyarakat jawa. ( lihat peringkat IPM masyarakat samawa ). Artinya menjadi pilihan baginya untuk menjadi pemenang dengan mepertahankan kualitasnya atau menjadi kalah dengan menghancurkan potensi yang sudah berkembang karena sikap malas yang kembali muncul.

Tingi ate ( gengsi ) dan peningkatan kualitas SDM

Gengsi atau tingi ate dalam bahasa sumbawa umumnya diartikan sebagai harga diri, sesorang yang memiliki harga diri yang tinggi tentu saja menolak untuk disamakan dengan orang yang berharga diri rendah menurut pendapatnya. Gengsi atau tingi ate ini merupakan fenomena masyarakat sumbawa saat ini. Hal ini dapat terlihat dari sikap dan prilaku sehari – hari masyarakatnya. Jika di kota – kota besar lainnya di indonesia, tidak jarang kita jumpai para pelajar atau mahasiswa bahkan para pegawai masih mau mengayuh sepeda ke sekola atau ke kampus dan kantor. Namun di sumbawa jarang sekali kita jumpai yang seperti ini terutama untuk level pendidikan menengah ke atas. Bemo dengan fasilitas “ajep – ajep” rupanya tetap menjadi primadona bagi pelajar samawa, bukan pemandangan yang asing jika setiap pagi kita melihat kerumunan pelajar menungu bemo di beberapa tempat di kota samawa. Anehnya selain menjadi primadona, Bemo juga menjadi kambing hitam jika terlambat sampai ke sekolah. Padahal jika mau di telisik lebih jauh, kota samawa bukanlah kota yang besar, artinya jarak satu tempat ke tempat yang lainnya relatif dekat.
Contoh lainnya cukup nyata terlihat pada prosesi pernikahan. Jarang sekali di sumbawa kita melihat pernikahan sederhana seperti yang sering di jumpai di kota – kota besar, contohnya semarang yang kebetulan tempat penulis sedang meempuh studi. Di Semarang orang menikah dengan mahar seadanya dan sering pula tanpa resepsi besar – besaran dan itu bukanlah hal yang asing di Semarang, bahkan sahabat saya pernah menikah dengan biaya kurang dari 5 juta, 5 juta di semarang tentu berbeda nilainya dengan 5 juta di sumbawa bukan ?.
Pada dasarnya sikap gengsi dapat melahirkan dampak positif dan negatif. Gengsi terhadap hal – hal yang “buruk” seperti gengsi mencuri, menipu dan sebagainya dapat disebut berdampak positif, sebaliknya gengsi untuk hal – hal yang “baik” seperti bekerja keras, hidup sederhana dan sebagainya dapat disebut berdampak negatif. Pertanyaannya saat ini adalah mana yang “baik”dan mana yang “buruk” dalam persfektif masyarakat sumbawa pada umumnya.
Untuk menjawab pertanyaan ini tentu saja dibutuhkan data – data yang cukup akurat sebab menyampaikan penilaian tentang karakter masyarakat tertentu bukanlah hal yang sepele karena ini menyangkut harga diri itu sendiri. Hal yang dapat di lakukan saat ini adalah memberikan gambaran – gambaran bagaimana masyarakat samawa menentukan pilihan antara “baik”dan “buruk”.
Berkaitan dengan salah satu komentar terhadap tulisan yang diterbitkan oleh www.sumbawanews.com tadi, ketika orang samawa melihat pendatang bekerja sebagai pedagang kerupuk, bagi orang sumbawa hal itu tidak mungkin untuk dilakukan karena umumnya masyarakat samawa mengharapkan bekerja kantoran sebagai pegawai seperti PNS misalnya. Itu artinya lebih memilih menjadi pegawai dibandingkan pengusaha. Bahkan menjadi TKI merupakan pilihan daripada menjadi pengusaha dan bekerja keras dari bawah untuk membangun usaha di kotanya sendiri.

Keterkaitan antara Malas dengan Gengsi

Gengsi akan menyebabkan kemalasan, mengapa demikian ?. Karena gengsi dan malas merupakan karakter individu, orang yang memiliki gengsi atau harga diri tinggi tentu saja akan enggan melakukan sesutu yang tidak sesuai dengan standar harga dirinya,terlepas hal itu produktif atau tidak, dan keengganan itu diartikan sebagai kemalasan. Ketika orang samawa melihat kaum pendatang bekerja pada sektor informal ambil saja contoh menjadi pedagang kerupuk keliling, umumnya masyarakat samawa malu untuk melakukan hal yang sama, padahal berdagang kerupuk belum tentu tidak memiliki penghasilan yang lebih besar dari pada menjadi karyawan, anehnya setelah usaha kerupuk tersebut berhasil justru yang menjadi pekerja adalah orang samawa sendiri. Dari hal ini dapat disimpulkan menjadi karyawan dalam perspektif masyarakat sumbawa lebih baik jika dibandingkan dengan menjadi seorang wirausahawan. Disinilah letak permasalahan sebenarnya yang menyebabkan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat samawa umumnya menjadi lambat.

Solusi

Mempermasalahkan sesuatu tanpa memberikan solusi adalah sesuatu yang kurang bijak, maka diperlukan usulan dan wacana tentang solusi yang memungkinkan. Inti permasalahan sesungguhnya adalah karakter tingi ate atau gengsi, karena ini yang melahirkan sikap malas yang pada akhirnya menyebabkan hilangnya produktifitas dan kemampuan menggali potensi sumber daya individu masyarakat samawa.
Gengsi adalah sebuah karakter kejiwaan maka untuk mengobatinya diperlukan pendekatan kejiwaan pula. Sebagai masyarakat yang religius maka pendekatan melalui media agama adalah hal yang paling baik dan paling mudah diterapkan. Melaui nilai – nilai pemahaman spiritual perasaan gengsi yang dalam bahasa agama erat kaitannya dengan sifat riya ( sombong ) dapat “terobati”. Pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah harus selaras, bukan hanya pembangunan fisik namun pembangunan rohani masyarakat juga harus terus dilakuakan dilakukan. Karena keberhasilan pembangunan mustahil didapatkan oleh sumber daya manusia yang rendah kualitas moral dan akhlaknya. Melaui pemimpin – pemimpin yang memiliki akhlak dan moral yang baik maka peningkatan kualitas sumber daya masyarakatnya pun akan berjalan baik sehingga samawa dapat berkembang dan disejajarkan dengan kota – kota lainnya.

penulis adalah mahasiswa sumbawa yang sedang menyelesaikan studi di kota Semarang

Teknik Industri


MENGENAL TEKNIK INDUSTRI

Teknik industri adalah cabang dari ilmu teknik yang berkenaan dengan pengembangan, perbaikan, implementasi, dan evaluasi sistem integral dari manusia, pengetahuan, peralatan, energi, materi, dan proses.

Bidang keahlian
Pada dasarnya, ilmu Teknik Industri dapat dibagi ke dalam tiga bidang keahlian, yaitu Sistem Manufaktur, Manajemen Industri, dan Sistem Industri dan Tekno Ekonomi.

Sistem Manufaktur
Sistem Manufaktur adalah sebuah sistem yang memanfaatkan pendekatan teknik industri untuk peningkatan kualitas, produktivitas, dan efisiensi sistem integral yang terdiri dari manusia, mesin, material, energi, dan informasi melalui proses perancangan, perencanaan, pengoperasian, pengendalian, pemeliharaan, dan perbaikan dengan menjaga keselarasan aspek manusia dan lingkungan kerjanya. Jenis bidang keilmuan yang dipelajari dalam Sistem Manufaktur ini antara lain adalah Sistem Produksi, Perencanaan dan Pengendalian Produksi, Pemodelan Sistem, Perancangan Tata Letak Pabrik, dan Ergonomi.

Manajemen Industri
Bidang keahlian Manajemen Industri adalah bidang keahlian yang memanfaatkan pendekatan teknik industri untuk penciptaan dan peningkatan nilai sistem usaha melalui fungsi dan proses manajemen dengan bertumpu pada keunggulan sumber daya insani dalam menghadapi lingkungan usaha yang dinamis. Jenis bidang keilmuan yang dipelajari dalam Manajemen Industri antara lain adalah Manajemen Keuangan, Manajemen Kualitas, Manajemen Inovasi, Manajemen Sumber Daya Manusia, Manajemen Pemasaran, Manajemen Keputusan dan Ekonomi Teknik.

Sistem Industri dan Tekno Ekonomi
Bidang keahlian Sistem Industri dan Tekno-Ekonomi adalah bidang keahlian yang memanfaatkan pendekatan teknik industri untuk peningkatan daya saing sistem integral yang terdiri atas tenaga kerja, bahan baku, energi, informasi, teknologi, dan infrastruktur yang berinteraksi dengan komunitas bisnis, masyarakat, dan pemerintah. Bidang keilmuan yang dipelajari di dalam Sistem Industri dan Tekno Ekonomi antara lain adalah Statistika Industri, Sistem Logistik, Logika Pemrograman, Operational Research, dan Sistem Basis Data

Sejarah Teknik Industri
Di dunia
Awal mula Teknik Industri dapat ditelusuri dari beberapa sumber berbeda. Frederick Winslow Taylor sering ditetapkan sebagai Bapak Teknik Industri meskipun seluruh gagasannya tidak asli. Beberapa risalah terdahulu mungkin telah mempengaruhi perkembangan Teknik Industri seperti risalah The Wealth of Nations karya Adam Smith, dipublikasikan tahun 1776; Essay on Population karya Thomas Malthus dipublikasikan tahun 1798; Principles of Political Economy and Taxation karya David Ricardo, dipublikasikan tahun 1817; dan Principles of Political Economy karya John Stuart Mill, dipublikasikan tahun 1848. Seluruh hasil karya ini mengilhami penjelasan paham Liberal Klasik mengenai kesuksesan dan keterbatas dari Revolusi Industri. Adam Smith adalah ekonom yang terkenal pada zamannya. "Economic Science" adalah frasa untuk menggambarkan bidang ini di Inggris sebelum industrialisasi America muncul .
Kontribusi penting lainnya dan mengilhami Taylor adalah Charles W. Babbage. Babbage adalah profesor ahli matematika di Cambridge University. Salah satu kontribusi pentingnya adalah buku yang berjudul On the Economy of Machinery and Manufacturers tahun 1832 yang mendiskusikan banyak topik menyangkut manufaktur. Babbage mendiskusikan gagasan tentang Kurva Belajar (Learning Curve), pembagian tugas dan bagaimana proses pembelajaran dipengaruhi, dan efek belajar terhadap peningkatan pemborosan. Dia juga sangat tertarik pada metode pengaturan pemborosan. Charles Babbage adalah orang pertama yang menganjurkan membangun komputer mekanis. Dia menyebutnya "analytical calculating machine" , untuk tujuan memecahkan masalah matematika yang kompleks.
Di Amerika Serikat selama akhir abad 19 telah terjadi perkembangan yang mempengaruhi pembentukan Teknik Industri. Henry R. Towne menekankan aspek ekonomi terhadap pekerjaan insinyur yakni bagaimana seorang insinyur akan meningkatkan laba perusahaan? Towne kemudian menjadi anggota American Society of Mechanical Engineers (ASME) sebagaimana yang dilakukan beberapa pendahulunya di bidang Teknik Industri. Towne menekankan perlunya mengembangkan suatu bidang yang terfokus pada sistem manufactur. Dalam Industrial Engineering Handbook dikatakan bahwa "ASME adalah tempat berkembang biaknya Teknik Industri". Towne bersama Fredrick A. Halsey bekerja mengembangkan dan memaparkan suatu Rencana Kerja untuk mengurangi pemborosan kepada ASME. Tujuan Recana ini adalah meningkatkan produktivitas pekerja tanpa berpengaruh negatif terhadap ongkos produksi. Rencana ini juga menganjurkan bahwa sebagian keuntungan dapat dibagikan kepada pekerja dalam bentuk insentif.
Henry L. Gantt (juga anggota ASME) menekankan pentingnya seleksi karyawan dan pelatihannya. Dia, seperti juga Towne dan Halsey, memaparkan paper dengan topik-topik seperti biaya, seleksi karyawan, pelatihan, skema insentif, dan penjadwalan kerja. Dia adalah pencipta Diagram Gantt (Gantt chart), yang saat ini merupakan diagram yang sangat populer digunakan dalam penjadwalan kerja. Sampai sekarang Gantt chart digunakan dalam bidang statitik untuk membuat prediksi yang akurat. Jenis diagram lainnya telah dikembangkan untuk tujuan penjadwalan seperti Program Evaluation and Review Technique (PERT) dan Critical Path Mapping (CPM).
Sejarah Teknik Industri tidak lengkap tanpa menyebut Frederick Winslow Taylor. Taylor mungkin adalah pelopor Teknik Industri yang paling terkenal. Dia mempresentasikan gagasan mengenai pengorganisasian pekerjaan dengan menggunakan manajemen kepada seluruh anggota ASME. Dia menciptakan istilah "Scientific Management" untuk menggambarkan metode yang dia bangun melalui studi empiris. Kegiatannya, seperti yang lainnya, meliputi topik-topik seperti pengorganisasian pekerjaan dengan manajemen, seleksi pekerja, pelatihan, dan kompensasi tambahan bagi seluruh individu yang memenuhi standar yang dibuat perusahaan. Scientific Management memiliki efek yang besar terhadap Revolusi Industri, baik di Amerika maupun di luar negara Amerika.
Keluarga Gilbreth diakui akan pengembangan terhadap Studi Waktu dan Gerak (Time and Motion Studies). Frank Bunker Gilbreth dan istrinya Dr. Lillian M. Gilbreth melakukan penelitian mengenai Pemahaman Kelelahan (Fatigue), Skill Development, Studi Gerak (Motion Studies), dan Studi Waktu (Time Studies). Lillian Gilbreth memeliki gelasr Ph.D. dalam bidang Psikologi yang membantunya dalam memahami masalah-masalah manusia. Keluarga Gilbreth meyakini bahwa terdapat satu cara terbaik ("one best way") untuk melakukan pekerjaan. Salah satu pemikiran mereka yang siginifikan adalah pengklasifikasian gerakan dasar manusia ke dalam 17 macam, dimana ada gerakan yang efektif dan ada yang tidak efektif. Mereka menamakannya Tabel Klasifikasi Therbligs (ejaan terbalik dari kata Gilbreth). Gilbreth menyimpulkan bahwa waktu untuk menyelesaikan gerakan yang efektif (effective therblig) lebih singkat tetapi sulit untuk dikurangi, demikian sebaliknya dengan non-effective therbligs. Gilbreth mengklaim bahwa setiap bentuk pekerjaan dapat dipisah-pisah ke dalam bentuk pekerjaan yang lebih sederhana.
Saat Amerika Serikat menghadapi Perang Dunia II, secara diam-diam pemerintah mendaftarkan para ilmuwan untuk meneliti perencanaan, metode produksi, dan logistik dalam perang. Para ilmuwan ini mengembangkan sejumlah teknik untuk pemodelan dan memprediksi solusi optimal. Lebih lanjut saat informasi ini terbongkar. lahirlah Operation Research. Banyak hasil penelitian yang masih sangat teoritis dan pemahaman bagaimana menggunakannya dalam dunia nyata tidak ada. Hal inilah yang menyebabkan jurang antara kelompok Operation Research (OR) dan profesi insinyur terlalu lebar. hanya sedikit perusahaan yang dengan sigap membentuk departemen Operation Research dan mengkapitalisasikannya.
Pada 1948 sebuah komunitas baru, American Institute for Industrial Engineers (AIIE), dibuka untuk pertama kalinya. Pada masa ini Teknik Industri benar-benar tidak mendapat tempat yang khusus dalam struktur perusahaan. Selama tahun 1960 dan sesudahnya, beberapa perguruan tinggi mulai mengadopsi teknik-teknik operation research dan menambahkannya pada kurikulum Teknik Industri. Sekarang untuk pertama kalinya metode-metode Teknik Industri disandarkan pada fondasi analisa, termasuk metode empiris terdahulu lainnya. Pengembangan baru terhadap optimisasi dalam matematika sebagaimana metode baru dalam analisa statistik membantu dalam mengisi lubang kosong bidang Teknik Industri dengan pendekatan teoritis.
Kemudian, permasalahan Teknik Industri menjadi begitu besar dan kompleks pada dan saat komputer digital berkembang. Dengan komputer digital dan kemampuannya menyimpan data dalam jumlah besar, insinyur Teknik Industri memiliki alat baru untuk mengkalkulasi permasalahan besar secara cepat. Sebelumnya komputasi pada suatu sistem memakan mingguan bahkan bulanan, tetapi dengan komputer dan perkembangan sub-program "sub-routines", perhitungan dapat dilakukan dalam hitungan menit dan dengan mudah dapat diulangi terhadap kriteria problem yang baru. Dengan kemampuannya menyimpan data, hasil perhitungan pada sistem sebelumnya dapat disimpan dan dibandingkan dengan informasi baru. Data-data ini membuat Teknik Industri menjadi cara yang kuat dalam mempelajari sistem produksi dan reaskinya bila terjadi perubahan.

Di Indonesia
Sejarah Teknik Industri di Indonesia di awali dari kampus Universitas Sumatera Utara [USU] dengan situs http://ft.usu.ac.id/ [[1]], Medan pada tahun 1965 dan dilanjutkan dengan Teknik Industri ITB Institut Teknologi Bandung. Sejarah pendirian pendidikan Teknik Industri di ITB tidak terlepas dari kondisi praktek sarjana mesin pada tahun lima-puluhan. Pada waktu itu, profesi sarjana Teknik mesin merupakan kelanjutan dari profesi pada jaman Belanda, yaitu terbatas pada pekerjaan pengoperasian dan perawatan mesin atau fasilitas produksi. Barang-barang modal itu sepenuhnya diimpor, karena di Indonesia belum terdapat pabrik mesin.
Di Universitas Indonesia (www.ui.edu), keilmuan Teknik Industri telah dikenalkan pada awal tahun tujuh puluhan, dan merupakan sub bagian dari keilmuan Teknik Mesin. Sejak 30 Juni 1998, diresmikanlah Jurusan Teknik Industri (sekarang Departemen Teknik Industri) Fakultas Teknik Universitas Indonesia, situs resminya di http://www.ie.ui.ac.id/
Kalau pada masa itu, dijumpai bengkel-bengkel tergolong besar yang mengerjakan pekerjaan perancangan konstruksi baja seperti yang antara lain terdapat di kota Pasuruan dan Klaten, pekerjaan itu pun masih merupakan bagian dari kegiatan perawatan untuk mesin-mesin pabrik gula dan pabrik pengolahan hasil perkebunan yang terdapat di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Dengan demikian kegiatan perancangan yang dilakukan oleh para sarjana Teknik Mesin pada waktu itu masih sangat terbatas pada perancangan dan pembuatan suku-suku cadang yang sederhana berdasarkan contoh-contoh barang yang ada. Peran yang serupa bagi sarjana Teknik Mesin juga terjadi di pabrik semen dan di bengkel-bengkel perkereta-apian.
Pada saat itu, dalam menjalankan profesi sebagai sarjana Teknik Mesin dengan tugas pengoperasian mesin dan fasilitas produksi, tantangan utama yang mereka hadapi ialah bagaimana agar pengoperasian itu dapat diselenggarakan dengan lancar dan ekonomis. Jadi fokus pekerjaan sarjana Teknik Mesin pada saat itu ialah pengaturan pembebanan pada mesin-mesin agar kegiatan produksi menjadi ekonomis, dan perawatan (maintenance) untuk menjaga kondisi mesin supaya senantiasa siap pakai.
Pada masa itu, seorang kepala pabrik yang umumnya berlatar-belakang pendidikan mesin, sangat ketat dan disiplin dalam pengawasan terhadap kondisi mesin. Di pagi hari sebelum pabrik mulai beroperasi, ia keliling pabrik memeriksa mesin-mesin untuk menyakini apakah alat-alat produksi dalam keadaan siap pakai untuk dibebani suatu pekerjaan.
Pengalaman ini menunjukan bahwa pengetahuan dan kemampuan perancangan yang dipunyai oleh seorang sarjana Teknik Mesin tidak banyak termanfaatkan, tetapi mereka justru memerlukan bekal pengetahuan manajemen untuk lebih mampu dan lebih siap dalam pengelolaan suatu pabrik dan bengkel-bengkel besar.
Sekitar tahun 1955, pengalaman semacam itu disadari benar keperluannya, sehingga sampai pada gagasan perlunya perkuliahan tambahan bagi para mahasiswa Teknik Mesin dalam bidang pengelolaan pabrik.
Pada tahun yang sama, orang-orang Belanda meninggalkan Indonesia karena terjadi krisis hubungan antara Indonesia-Belanda, sebagai akibatnya, banyak pabrik yang semula dikelola oleh para administratur Belanda, mendadak menjadi vakum dari keadministrasian yang baik. Pengalaman ini menjadi dorongan yang semakin kuat untuk terus memikirkan gagasan pendidikan alternatif bidang keahlian di dalam pendidikan Teknik Mesin.
Pada awal tahun 1958, mulai diperkenalkan beberapa mata kuliah baru di Departemen Teknik Mesin, diantaranya : Ilmu Perusahaan, Statistik, Teknik Produksi, Tata Hitung Ongkos dan Ekonomi Teknik. Sejak itu dimulailah babak baru dalam pendidikan Teknik Mesin di ITB, mata kuliah yang bersifat pilihan itu mulai digemari oleh mahasiswa Teknik Mesin dan juga Teknik Kimia dan Tambang.
Sementara itu pada sekitar tahun 1963-1964 Bagian Teknik Mesin telah mulai menghasilkan sebagian sarjananya yang berkualifikasi pengetahuan manajemen produksi/teknik produksi. Bidang Teknik Produksi semakin berkembang dengan bertambahnya jenis mata kuliah. Mata kuliah seperti : Teknik Tata Cara, Pengukuran Dimensional, Mesin Perkakas, Pengujian Tak Merusak, Perkakas Pembantu dan Keselamatan Kerja cukup memperkaya pengetahuan mahasiswa Teknik Produksi.
Pada tahun 1966 - 1967, perkuliahan di Teknik Produksi semakin berkembang. Mata kuliah yang berbasis teknik industri mulai banyak diperkenalkan. Sistem man-machine-material tidak lagi hanya didasarkan pada lingkup wawasan manufaktur saja, tetapi pada lingkup yang lebih luas yaitu perusahaan dan lingkungan. Dalam pada itu, di Departemen ini mulai diajarkan mata kuliah : Manajemen Personalia, Administrasi Perusahaan, Statistik Industri, Perancangan Tata Letak Pabrik, Studi Kelayakan, Penyelidikan Operasional, Pengendalian Persediaan Kualitas Statistik dan Programa Linier. Sehingga pada tahun 1967, nama Teknik Produksi secara resmi berubah menjadi Teknik Industri dan masih tetap bernaung di bawah Bagian Teknik Mesin ITB.
Pada tahun 1968 - 1971, dimulailah upanya untuk membangun Departemen Teknik Industri yang mandiri. Upaya itu terwujud pada tanggal 1 Januari 1971.

Teknik Industri Universitas Islam Sultan Agung Semarang ( unissula )
Pengembangan dan penerapan teknologi canggih yang diarahkan pada pemilihan teknologi tepat guna untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas kerja merupakan salah sumber kekuatan utama dalam pelaksanaan pembangunan. Kebijaksanaan pembangunan industri untuk menciptakan stuktur ekonomi dengan menitikberatkan industri yang maju didukung oleh sektor pertanian yang tangguh, merupakan sarana penciptaan perkembangan pembangunan yang lebih baik.

Pembangunan industri harus dapat membuat industri menjadi lebih efisien dan peranannya di dalam perekonomian nasional makin meningkat, baik segi nilai tambah maupun perluasan lapangan kerja. Sejalan dengan perkembangan industrialisasi yang memerlukan beragam teknologi ini memerlukan tenaga ahli dalam bidang teknik, termasuk bidang teknologi industri. Peran pendidikan serta pembaharuan tata nilai masyarakat sangat penting sebagai sarana penunjang.

Bertitik tolak dari pokok-pokok pikiran tersebut di atas, maka dalam rangka menunjang program pendidikan, Universitas Islam Sultan Agung sebagai Perguruan Tinggi Swasta yang juga merupakan bagian dari sistem pendidikan nasional, merasa terpanggil dan berkewajiban untuk ikut berpartisipasi aktif dalam mendidik mahasiswa agar mampu meningkatkan daya penalaran, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, berjiwa penuh pengabdian serta memiliki rasa tanggung jawab yang besar terhadap masa depan bangsa dan negara, dengan tetap mengindahkan ciri-ciri khas Universitas Islam Sultan Agung serta syarat-syarat pendidikan secara umum, dalam upaya untuk membantu melaksanakan program pemerintah dalam memenuhi kebutuhan sarjana teknologi industri yang diperlukan dalam pembangunan industri, maka pada tahun 1993 dibuka Fakultas Teknologi Industri bersamaan dengan berdirinya Jurusan Teknik Elektro (S1) dengan SK Mendikbud No. 84/D/O/1993.

Seiring dengan perkembangan dunia industri yang sarat akan kebutuhan teknologi dan informasi maka dibukalah Jurusan Teknik Industri (S1) dan DIII Teknik Komputer pada tahun 2000 dengan SK Dirjen DIKTI No. 294/DIKTI/KEP/2000. Adapun untuk menunjang bidang informasi, pada tahun 2003 dibuka Jurusan Teknik Informatika (S1) dengan SK Dirjen DIKTI No. 1421/D/T/2003.

Memasuki usia satu Dasawarsa bukanlah waktu yang singkat dilewatkan, pembenahan internal terus dilakukan baik akademik, manajemen dan sumber daya insani. Untuk itu disusunlah suatu pedoman yang menjamin mutu baik proses maupun outputnya dengan Rencana Strategis dan Rencana Operasi. Renstra dibuat untuk jangka waktu yang cukup panjang yaitu 25 tahun, sehingga berisi rancangan umum sesuai visi dan misi universitas. Renop adalah penjabaran lebih teknis pelaksanaan yang dibuat dalam jangka menengah yaitu 5 tahun.


*Sumber : wikipedia & Situs Resmi FTI Universitas Islam Sultan Agung Semarang